My Profile

Sabtu, 17 Maret 2012

Amal Duniawi


Pada suatu hari, Rasulullah SAW menjenguk Fatimah yang sedang menggiling tepung dengan alat penggiling. Nabi heran, karena Fatimah tampak menangis. Mengapa? Putri Rasulullah ini mengaku air matanya meleleh karena kesibukannya yang terus silih berganti tiada henti. Kepada ayahnya, Fatimah mengungkapkan keinginannya untuk memiliki budak yang bisa membantu semua pekerjaannya di rumah.

Nabi pun mendekati tempat penggilingan. Beliau lalu menghibur putrinya, ''... Allah berkehendak mencatat kebaikan, menghapus keburukan, dan mengangkat derajatmu jika engkau menunaikan tugas-tugas keseharianmu sebagai seorang istri dengan baik.''

Rasulullah kemudian bersabda bahwa seorang wanita yang dapat berperan sebagai istri yang baik bagi suaminya, serta sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya, maka Allah memberinya derajat yang sangat mulia.

Dalam kesempatan lain beliau juga menjelaskan, jika seorang ibu meminyaki sendiri rambut anak-anaknya, menyisirinya, mencuci baju-baju mereka sendiri, maka pahala yang ia peroleh laksana amal memberi makan seribu orang yang lapar dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang (tak mempunyai pakaian).

Kisah dan hadis di atas memberi pemahaman yang dalam kepada kita, bahwa hendaknya kita tidak membuat dikotomi atas amal kita antara yang "duniawi" dan "ukhrawi", sehingga kemudian kita mengunggulkan yang satu dan meremehkan yang lain.

Sebab, tidak jarang, apa yang kita anggap remeh ternyata sebenarnya mengandung kemuliaan yang sangat tinggi. Kita seringkali, mungkin, berpikiran bahwa amal-amal yang mulia yang "ukhrawi", yakni yang kental nuansa ritual-sakralnya, misalnya jihad fi sabilillah, haji, shalat nafilah, zikir, dan tadarus.

Kesibukan sehari-hari, misalnya, kerja di kantor, di pabrik, di toko, di jalan-jalan, demi menafkahi keluarga di rumah, atau kesibukan di dalam rumah semisal mengurus rumah dan mengasuh anak, yakni amal-amal profan, "duniawi", kita anggap remeh-temeh, biasa-biasa saja, bukan amal yang utama nan mulia.

Padahal, merujuk pada kisah dan sabda Rasul di atas, jelas sekali bahwa pemahaman seperti itu keliru. Dalam sudut pandang dan skala tertentu, amal-amal profan, "amal-amal duniawi" justru sangat tinggi nilainya di hadapan Allah, selama dilakukan dengan cara dan niat yang baik, sesuai tuntunan yang disunahkan Rasul.

Suatu kali, ketika Rasul sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, ada seorang pemuda yang kekar dan perkasa lewat. Para sahabat berkata, "Ah, andaikan kekekaran dan keperkasaannya digunakan untuk berjihad di medan perang sabilillah, betapa bagusnya."
Tapi, apa komentar Rasulullah?

Beliau sama sekali tidak sepakat dengan cara pandang parsial seperti itu. "Andaikan ia masih punya orang tua di rumah, ia lebih baik menggunakan kekuatannya untuk mengurus orang tuanya daripada berjihad. Atau, jika dengan keperkasaannya itu ia bekerja mencari nafkah buat dirinya sendiri agar tidak bergantung pada orang lain, itu jauh lebih baik daripada jihad."

Sumber : Republika Online


Ajaran Bederma


Suatu saat Dzun Nun al-Mishri melakukan perenungan di hutan, diiringi seorang murid setianya. Mereka mendapati seekor burung yang tiada daya untuk terbang, karena sayapnya patah. Burung itu hanya bisa menggelepar-gelepar di tanah. Selang beberapa saat kemudian, datang burung yang lain membawakan makanan baginya. Burung yang patah sayapnya pun, tanpa perlu repot-repot mencari makanan, dapat makan kenyang berkat jasa kawannya.

Menyaksikan kejadian langka itu, si murid termenung dan berpikir keras untuk menggali pelajaran yang dapat dipetik. ''Ternyata, tanpa harus berusaha mencari makanan sekalipun, kita dapat bertahan hidup berkat jasa orang lain. Alangkah rahmatnya Allah SWT kepada setiap makhluknya,'' simpulnya.

Sebagai seorang waliyullah, Dzun Nun al-Mishri bisa merasakan apa yang direnungkan oleh muridnya. Dia pun berkata padanya, ''Seharusnya kamu tidak berpikir menjadi burung yang patah sayap itu. Tapi, berpikirlah menjadi burung yang memberi makan, yang dapat menolong saudaranya.''

Ucapan Dzun Nun al-Mishri ini mengingatkan kita pada sabda Nabi SAW, ''Al-yadd al-ulya khair min al-yadd al-sufla.'' (HR al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim ditambahkan, yang dimaksud al-yadd al-ulya adalah al-munfiqah (pemberi sedekah) dan al-yadd al-sufla adalah al-sailah (peminta atau penerima).

Itulah ajaran Islam. Islam mengajarkan pemeluknya untuk menjadi penderma dan penolong bagi yang membutuhkan. Ini tecermin misalnya dari ajaran zakat (al-Baqarah: 43, 83, dan 110; al-Ahzab: 33; al-Mujadilah: 13; dan lain-lain). Malah, zakat dijajarkan sebagai pilar rukun Islam. Ini menunjukkan, menolong orang yang membutuhkan, mendapat perhatian besar dalam ajaran Islam.

Menariknya lagi, seperti janji Allah SWT dalam QS Saba' ayat 39, kendati kita banyak bederma, itu tidak akan mengurangi harta kita. Allah SWT akan mengganti dan malah menambahnya. Allah SWT berfirman, ''Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)'. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.''

Tapi, di sisi lain, Allah SWT juga menantang kita untuk mendermakan barang-barang yang paling kita cintai. Allah SWT berfirman, ''Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.'' (Ali Imran ayat 92).

Ini tantangan yang berat bagi kita. Karena, mendermakan barang yang kita cintai, membutuhkan kesadaran beragama yang baik dan pengorbanan yang tulus. Itulah tantangan dan ujian bagi orang beriman. Tinggal kita yang harus membuktikan bahwa kita termasuk orang yang berhak meraih gelar al-birr, melalui berbagai derma. Wallah a'lam.

Sumber : Republika Online


Adab Pertetanggaan


Pesatnya industrialisasi dan globalisasi yang tidak diiringi dengan peningkatan pembinaan jiwa ternyata membawa dampak buruk pada tatanan kehidupan bermasyarakat di negeri ini.

Hedonisme, keglamoran, egoisme, dan individualisme, saat ini amat mudah ditemui di tengah masyarakat kita. Sementara itu, keguyuban, kerukunan, ke-tepa selira-an, pertolong-menolongan, dan kegotongroyongan, mulai terkikis dan memudar sedikit demi sedikit. Akibatnya, masyarakat--khususnya di perkotaan--menjadi sangat tidak peduli dengan anggota masyarakat lainnya.

Ketika diundang dalam pertemuan rukun tetangga (RT), dengan banyak alasan mereka tidak menghadirinya, atau cukup membayar sejumlah uang sebagai ganti giliran meronda kampung. Maka jangan heran bila kemudian penghuni suatu rumah tidak mengenal tetangganya karena tidak ada komunikasi, keakraban, dan kepedulian antarmereka.

Tetangga, karena begitu dekat posisinya dengan kita, dalam keadaan tertentu mereka lebih berarti bila dibandingkan dengan kerabat karena keberadaan kerabat tidak selalu, secara geografis, dekat dengan kita. Tetanggalah yang dalam batas tertentu kita berikan kepercayaan untuk mengurus dan mengawasi harta dan keluarga ketika kita sedang bepergian jauh dan cukup lama.

Dalam Alquran dijelaskan bahwa perintah berbuat baik kepada tetangga disebutkan setelah perintah untuk tidak menyekutukan Allah dan perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua. Firman Allah, artinya), ''Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Berbuat baiklah kepada dua orang, ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong dan membangga-banggakan diri.'' (QS. An-Nisa:36)

Sejalan dengan pentingnya hubungan bertetangga, maka barang siapa melalaikan hak-hak bertetangga berarti telah melakukan sebuah dosa besar yang terancam siksa neraka. Rasulullah SAW pun sangat menekankan hubungan baik kepada tetangga.

Beliau bersabda, ''Selalu Jibril berpesan kepadaku supaya berbuat baik kepada tetangga, hingga saya mengira kalau ia berhak mendapat warisan.'' (HR. Bukhori-Muslim).

Menolong, bergaul dengan baik, tidak menyakiti, dan memberi pembelaan, merupakan bentuk perbuatan baik kepada tetangga, di samping juga kita perlu memuliakan mereka. Salah satunya dengan memberi hadiah, meskipun kecil nilainya.

Rasulullah pernah menasihati Abu Zar, beliau bersabda, ''Wahai Abu Zar, jika engkau memasak, perbanyaklah airnya. Berilah tetanggamu.'' (HR. Muslim)Demikianlah keagungan ajaran Islam dalam membentuk keharmonisan kehidupan bermasyarakat, hingga perkara sepele.

Namun, kadang kita melalaikannya dan justru membanggakan aturan yang bersumber dari akal sempit dan dituntun oleh hawa nafsu jahat, sehingga timbullah ketimpangan. Wallahu A'lam.

Sumber : Republika Online


Adab Bertetangga


Islam memerintahkan umatnya untuk bertetangga secara baik. Bahkan, saking seringnya Jibril mewasiatkan agar bertetangga dengan baik, Rasulullah pernah mengira tetangga termasuk ahli waris. Kata Rasulullah, seperti diriwayatkan oleh Aisyah, ''Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya.'' (HR Bukhari-Muslim).

Namun, ternyata waris atau warisan yang dimaksud Jibril adalah agar umat Islam selalu menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu, menyapa, menanyakan kabarnya, menebar senyum, dan mengirimkan hadiah. Sabda Rasulullah SAW, ''Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.'' (HR Muslim).

Lihatlah, betapa ringan ajaran Rasulullah, namun dampaknya sangat luar biasa bagi kerukunan dan keharmonisan kita dalam bermasyarakat. Untuk memberi hadiah tidak harus berupa bingkisan mahal, tapi cukup memberi sayur yang sehari-hari kita masak.

Untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga, Rasulullah juga memerintahkan untuk saling menenggang perasaan masing-masing. ''Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,'' kata Rasulullah, ''maka hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya.'' (HR Bukhari).

Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang seorang wanita yang dikenal rajin melaksanakan shalat, puasa, dan zakat, tapi ia juga sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah menegaskan, ''Pantasnya dia di dalam api neraka!''

Kemudian, sahabat itu bertanya lagi mengenai seorang wanita lain yang dikenal sedikit melaksanakan shalat dan puasa, namun sering berinfak dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Jawab Rasulullah, ''Ia pantas masuk surga!'' (HR Ahmad).

Seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi mubazir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan tetangganya. Rasulullah bersumpah terhadap orang yang berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya, ''Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman ...!''

Sahabat bertanya, ''Siapa, ya Rasulullah?''
Beliau menjawab, ''Orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari keburukan perilakunya.'' (HR Bukhari).

Suatu kali, Aisyah pernah bingung mengenai siapa di antara tentangganya yang harus diutamakan. Lalu, ia bertanya kepada Rasulullah, ''Ya Rasulullah, saya mempunyai dua orang tetangga, kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?'' Beliau bersabda, ''Kepada yang paling dekat rumahnya.'' (HR Bukhari).

Rasulullah menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai acuan penilaian kebaikan seseorang. Kata beliau, ''Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.'' (HR Tirmidzi).

Sumber : Republika Online


Cermin Keteladanan


Ibnu Abbas RA pernah bercerita, "Suatu malam aku menginap di rumah saudara perempuan ibuku, Maimunah -- salah seorang istri Rasulullah SAW. Ketika itu Nabi giliran menginap di situ. Tengah malam Nabi bangun dari tidurnya dan langsung berwudhu dari syan -- kantong air kecil yang terbuat dari kulit -- yang tergantung. Kemudian Nabi shalat. Lalu aku bangun dan berwudhu dengan air yang tersisa dalam kantong air tersebut. Sebagaimana yang dikerjakan Nabi SAW, kemudian aku shalat di samping kirinya. Nabi menggeserkan aku ke sebelah kanannya. (HR Bukhari).

Hadits di atas mengungkapkan dua hal yang sangat berharga yang dicontohkan Rasulullah SAW. Pertama, pentingnya keteladanan. Kita lihat apa yang dilakukan oleh Ibnu Abbas, sejak bangun dari tempat tidurnya, kemudian berwudhu, lalu mengerjakan shalat malam bersama Rasulullah SAW. Semuanya dilakukan tanpa adanya ajakan atau perintah dari Rasulullah. Namun, yang dilakukan Ibnu Abbas adalah keikhlasan mencontoh apa yang dilakukan Nabi.

Kedua, hemat dan menjauhkan sikap mubazir. Sebagaimana Rasulullah berwudhu dengan air yang secukupnya, tidak berlebih-lebihan. Cukup sebatas yang disyariatkan Allah. Padahal, air yang tersedia dalam kantong air tadi, sengaja disediakan buat Rasulullah.

Tidak salah seandainya Rasullulah menghabiskannya. Bahkan lebih dari itu, seluruh penduduk Madinah dengan senang hati akan mengangkut air sebanyak mungkin untuk Rasulullah. Tapi tidak, Rasulullah cukup memakai air sehemat-hematnya. Bahkan, masih tersisa buat Ibnu Abbas untuk berwudhu.

Sebuah teladan yang mulia. Memang, pemimpin harus memberi contoh dan mengedepankan keteladanan kepada yang dipimpinnya. Daripada sekadar beretorika kering tanpa keteladanan berarti.

Dalam riwayat lain, diceritakan bahwa Rasulullah pernah ikut serta dengan para sahabatnya mencari kayu bakar. Padahal, para sahabat tidak ingin Rasulullah melakukannya. Tapi, beliau tetap pergi bersama para sahabatnya demi sebuah keteladanan.

Kita tentu tidak menyukai praktik KKN dan pemborosan yang dipertontonkan secara kasar di negeri ini. Kita lemah dan tak berdaya memberantasnya. Sesungguhnya memang seperangkat undang-undang dan imbauan saja tidak cukup untuk memberantasnya atau meminimalisasinya. Lebih dari semua itu kita dituntut untuk memberikan 'cermin' yang memantulkan suri teladan yang baik kepada bawahan dan lingkungan kita.

Seperti yang diungkapkan Ibnu Khaldun, bahwa manusia adalah anak dari lingkungannya. Apa yang dilihat dan didengarnya dari alam sekitarnya sangat mendominasi mental dan kepribadiannya.

Tidak lama lagi, bangsa Indonesia akan memilih pemimpin. Kita berharap dan berdoa, semoga Allah menganugerahkan kita pemimpin yang jujur, tulus, sederhana, sekaligus mampu memberikan keteladanan dalam segala sisi kehidupan. Wallahu a'lam.
Sumber : Republika Online


Adab Bertetangga



Islam memerintahkan umatnya untuk bertetangga secara baik. Bahkan, saking seringnya Jibril mewasiatkan agar bertetangga dengan baik, Rasulullah pernah mengira tetangga termasuk ahli waris. Kata Rasulullah, seperti diriwayatkan oleh Aisyah, ''Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya.'' (HR Bukhari-Muslim).

Namun, ternyata waris atau warisan yang dimaksud Jibril adalah agar umat Islam selalu menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu, menyapa, menanyakan kabarnya, menebar senyum, dan mengirimkan hadiah. Sabda Rasulullah SAW, ''Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.'' (HR Muslim).

Lihatlah, betapa ringan ajaran Rasulullah, namun dampaknya sangat luar biasa bagi kerukunan dan keharmonisan kita dalam bermasyarakat. Untuk memberi hadiah tidak harus berupa bingkisan mahal, tapi cukup memberi sayur yang sehari-hari kita masak.

Untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga, Rasulullah juga memerintahkan untuk saling menenggang perasaan masing-masing. ''Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,'' kata Rasulullah, ''maka hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya.'' (HR Bukhari).

Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang seorang wanita yang dikenal rajin melaksanakan shalat, puasa, dan zakat, tapi ia juga sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah menegaskan, ''Pantasnya dia di dalam api neraka!''

Kemudian, sahabat itu bertanya lagi mengenai seorang wanita lain yang dikenal sedikit melaksanakan shalat dan puasa, namun sering berinfak dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Jawab Rasulullah, ''Ia pantas masuk surga!'' (HR Ahmad).

Seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi mubazir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan tetangganya. Rasulullah bersumpah terhadap orang yang berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya, ''Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman ...!''

Sahabat bertanya, ''Siapa, ya Rasulullah?''
Beliau menjawab, ''Orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari keburukan perilakunya.'' (HR Bukhari).

Suatu kali, Aisyah pernah bingung mengenai siapa di antara tentangganya yang harus diutamakan. Lalu, ia bertanya kepada Rasulullah, ''Ya Rasulullah, saya mempunyai dua orang tetangga, kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?'' Beliau bersabda, ''Kepada yang paling dekat rumahnya.'' (HR Bukhari).

Rasulullah menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai acuan penilaian kebaikan seseorang. Kata beliau, ''Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.'' (HR Tirmidzi).
Sumber : Republika Online


Jumat, 16 Maret 2012

Booming Blog Auto content


 Booming blog auto content,yah pasti bagi sobat blogger sudah tahu kan,bagi yang males2 nulis di blog inilah jalur alternatif untuk membuat blog agar terus dapat trafict,kamu mungkin pernah kan sebagian artikel kamu masuk pada web lain yang menggunakan auto content seperti ini,gimana kamu melihatnya,suka? kecewa? atau sebel artikel kamu dibajak...ha ha ha...
saya juga tukang copas lo...hanya saja bahasa penyampainya yang aq rubah, sebel gak jika artikel kamu yang kamu tulis di copas tanpa beda sedikitpun?
di copas manual saja sudah sebel apalagi dicuri dengan menngunakan software/pluggin,he he he...
lalu bagaimana cara kamu untuk menanggulangi ulah pluggin2 mereka itu? ada gak dari temen2 blogger yang bisa memberi solusinya? ato jangan2 pengen juga membuat autoblog seperti mereka saja (kyk aq) he he he....
ayuk bikin autoblog juga aja yuk...biar serp google penuh dengan autoblog saja he he he...kalo semua punya autoblog kan gak usah nulis semua...enak kan, aq juga mau coba2 buat autoblog dengan domain gratis serta hosting gratis kayak web yang baru aq buat dengan CMS wordpress ini, eh tapi belum sempat install plugginya nih...ntar aja ya aq installnya biar punya autoblog juga ha ha ha....jadi gak usah ribet2 nulis seperti ini.
buat sobat blogger yang membaca postingan ini dimohon memberi solusi,cara menanggulangi atau mungkin sobat blogger mau juga ikut2tan? ayuk......


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

HACKING

Terbaru >>

Top Post >>

 

S E R V I C E ' s aLL ShArE Copyright © 2010 Endy_Djubu is Designed by 3nfitry