My Profile

Sabtu, 17 Maret 2012

Berani Menghadapi Tantangan


Ketika pasukan negara imperialis terbesar di dunia saat itu, Romawi Timur (Byzantium), kian mendekati Madinah, Rasulullah SAW memberangkatkan pasukan menghadangnya. Menjelang kawasan Mu'tah, tepatnya di Desa Mu'an, kaum Muslimin berhenti dua hari dua malam. Tanpa diduga, bersama aliansinya, seperti Bani Ghassan, Lakham, Juzam, dan lain-lain, Romawi menyiapkan lebih dari 200 ribu anggota pasukan bersenjata lengkap. Padahal, serdadu Islam hanya 3.000 orang.

Sebagian dari kaum Muslimin ingin mundur karena merasa mustahil menghadapi lawan. Yang lain, mau mengabari dulu Rasulullah SAW seraya meminta tambahan pasukan. Tiba-tiba, Abdullah bin Rawwahah angkat suara, ''Saudara-saudara sekalian, demi Allah sesungguhnya yang kalian benci itulah tujuan kalian kemari, yakni mati syahid. Kita berperang melawan musuh bukanlah karena senjata lengkap dan tentara yang banyak.

Melainkan, karena dengan agama ini Allah akan memuliakan kita. Karena itu, mari maju meraih salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau mati syahid.'' Kata-kata Abdullah menyadarkan semua pasukan. Musuh jangan dicari, tapi jika telah di depan mata, jangan sekali-kali lari. Akhirnya, pasukan Islam sukses memorak-morandakan Romawi. Gagallah maksud buruk mereka ingin memperluas jajahan, sekaligus merusak kemuliaan Islam. Barangkali, jika menunda menghadapi Romawi agar pasukan bertambah, belum tentu menang.

Keimanan dan disiplin beramal saleh dari Abdullah dan para sahabat Rasul membuat mereka berani menghadapi tantangan, walau ternyata lebih besar dari yang diduga. Sayangnya, kita tidak begitu. Ada kecenderungan suka lari dari masalah dan gemar menunda menyelesaikan tugas, jika dirasa masalahnya berat sekali. Dirasa susah sedikit, disikapi dengan dikerjakan belakangan. Itu pun menjelang batas akhir. Beberapa kebiasan buruk misalnya, siswa dan mahasiswa baru belajar keras menjelang ujian. Atau, para pembesar yang membiarkan masalah saat masih kecil, bahkan meremehkannya.

Namun, menjadi panik dan baru mencari pertolongan ke sana ke mari saat telah mepet, sementara energi dan dana sudah menipis. Akibatnya, kalaupun masalah terselesaikan, pengorbanannya begitu besar dibanding jika diselesaikan jauh-jauh hari sebelumnya. Mutu kerja merosot, sementara tugas dan urusan lain terbengkalai. Meningkatkan keimanan, jumlah, dan kualitas amal saleh akan membuat berani menghadapi masalah, meski lebih berat dari sangkaan. Bagaimanapun, jika sungguh-sungguh berikhtiar dan berdoa, setiap masalah teratasi. Tiada masalah kecuali sebatas kesanggupan manusia (QS 2:286). Lari atau menunda menghadapinya justru memperbesar masalah dan memperberat dampak buruknya.

Sumber : Republika Online


Bekerja Keras


Sesampainya Rasulullah saw dan kaum Muhajirin di Madinah, agenda yang Beliau prioritaskan adalah memperat tali persaudaraan (muakhah) antara Muhajirin dan Anshar. Ikatan kuat inilah yang mendasari kerukunan, kasih sayang, serta berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dengan pengorbanan harta benda, jiwa, dan raga. Hal ini mereka tumpahkan hanya untuk mengharapkan keridlaan-Nya. Bahkan, kaum Anshar senantiasa mengutamakan kaum Muhajirin, sekalipun mereka dalam keadaan susah (QS 59:9).

Terdengarlah pada saat itu, Abdurahman bin 'Auf dari Muhajirin dipersaudarakan dengan sahabat Sa'ad bin Rabi'. Sa'ad bin Rabi' adalah salah seorang konglomerat Madinah. Sa'ad mempersilakan kepada Abdurrahman untuk mengambil apa saja yang ia inginkan untuk memenuhi kebutuhannya.

Abdurrahman bin 'Auf selaku seorang sahabat yang zuhud, wara', jujur, serta baik akhlaknya tidak serta-merta mengabulkan permohonan saudaranya ini. Ia tidak mau menerima sesuatu tanpa didasari oleh usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya. Oleh karenanya, Abdurrahman meminta kepada Sa'ad untuk mengantarkannnya ke pasar. Kepiawaian berdagang yang ia miliki tidak disia-siakannya. Ia tidak hanya berpangku tangan untuk mendapatkan belas kasih orang lain, selagi masih ada kemampuan untuk berusaha.

Tidak lama kemudian, karena sifatnya yang jujur, ulet, serta kerja keras, akhirnya ia pun menjadi pedagang yang sukses, sehingga ia menjadi seorang konglomerat yang dermawan, serta senantiasa menginfakkan hartanya demi keberlangsungan dakwah.

Dari kisah tersebut, kita bisa memetik hikmah, di tengah-tengah himpitan krisis ekonomi yang berkepanjangan ini, bangsa Indonesia sangat membutuhkan semangat Abdurahman bin 'Auf-Abdurahman bin 'Auf yang baru guna menyegarkan dan menghidupkan bangsa ini, sehingga mampu mengembalikan identitas bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia. Karena selama ini, kita telah kehilangan jati diri sebagai bangsa besar, disebabkan pemimpin-pemimpinnya yang selalu berharap untuk mendapatkan bantuan dari bangsa lain. Hal ini mengakibatkan ketergantungan rakyatnya untuk senantiasa mendapatkan sesuatu tanpa didasari usaha.

Bukankah bangsa ini sangat kaya dengan sumber daya alamnya? Ini adalah modal dasar yang telah kita miliki. Untuk itu, selanjutnya tinggal bagaimana kita mampu mengolahnya. Insya Allah dengan kejujuran, keuletan, dan kerja keras di antara kita, baik pejabat maupun rakyat, bangsa ini akan kembali menjadi bangsa yang diperhitungkan di kancah dunia. Semoga! Wallahu a'lam.

Sumber : Republika Online


Baju Kehinaan


Bertubi-tubi penghinaan dan penzaliman diterima umat Islam. Diganjalnya salah satu aspirasi paling minim, yakni tujuan pendidikan membentuk peserta didik menjadi beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas dan kreatif, serta pendidikan agama disampaikan guru seagama, adalah salah satu contoh. Pelecehan atas tekad pemberantasan pornografi, hingga tidak dihargainya Masjid Al-Aqsa sebagai tempat ibadah, serta hak hidup dan merdeka umat Islam Palestina, Irak, dan Chechnya, adalah cantoh yang lain.

Firman-Nya, ''Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada agama Allah dan perjanjian dengan manusia.'' (QS Ali Imran: 112). Ayat ini cukup menjelaskan bahwa kita seakan-akan memakai baju kehinaan, sehingga dalam urusan apa pun kepentingan umat selalu terganggu.

Umat tidak lagi teguh memegang agama Allah sebagai satu-satunya pandangan hidup, sumber hukum, dan nilai dalam kehidupan. Ajaran Islam dinodai sekularisme, sinkretisme, materialisme, dan lain-lain. Akibatnya, banyak yang minder dan merasa terhina bila diajak kembali kepada Islam karena telah menganggap hukum dan nilai peradaban Barat lebih unggul.

Bagaimana mungkin umat akan mulia bila pola pikir dan sikapnya selalu mengekor kepada peradaban Barat yang berbasis hawa nafsu dan godaan setan? Bagaimana tidak kalah dan terus terhina jika umat mengikuti kaum tanpa akal dan iman, padahal akal dan keimanan itulah yang membedakan insan dengan hewan dan setan?

Sementara itu, sistem pemerintahan dan para pejabat pemerintah yang melingkupi kehidupan umat juga jauh dari Islam. Bahkan tidak sedikit yang menentang Islam. Mereka menjauhi rakyatnya, bahkan mencurigai dan menzaliminya. Mereka juga kehilangan rasa cinta negerinya, padahal itu perintah Islam. Akibatnya, mereka tidak segan-segan menggadaikan wilayah, perusahaan negara, dan kekayaan alam negerinya, demi kepentingan pribadi. Maka kian terhinalah negara itu, sehingga menghadapi negara kecil, seperti Singapura pun tidak berwibawa lagi.

Dalam sistem ekonomi misalnya, kita wajib mengikuti semua petunjuk Rasulullah saw dan menjauhi segala larangannya (QS 59:7). Itulah syarat terbentuknya pemerataan ekonomi agar perekonomian negara kuat, mandiri, mempunyai tabungan dan konsumsi agregat yang besar, serta investasi dan produksi yang tidak membutuhkan utang berbunga.

Jadi, ketika tali Allah (hablum minallah) dan tali manusia (hablum minannas) tidak lagi dijalin dengan peradaban Islam, maka kehinaan demi kehinaan pasti datang menerpa.
Sumber : Republika Online


Bahaya Munafik


Ali RA mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, ''Sungguh aku tidak mengkhawatirkan seorang mukmin ataupun seorang musyrik atas umatku. Seorang mukmin akan dipelihara Allah dengan imannya daripada perbuatan mengganggu mereka dan seorang musyrik akan Allah patahkan gangguannya dengan sebab kemusyrikannya dari mereka.

Tapi, aku sangat mengkhawatirkan seorang munafik yang pandai bersilat lidah, mengucapkan apa-apa yang kamu ketahui dan mengerjakan apa yang kamu ingkari ...'' (Nahjul Balaghah: 114).

Nabi dalam hadis tersebut mengingatkan kepada kita tentang bahaya orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang 'bermuka dua', lahirnya kelihatan baik, tetapi hatinya ternyata jahat. Secara lahir mereka baik, seakan-akan mereka teman kita, padahal mereka musuh kita. Mereka juga pandai bersilat lidah, perkataannya sangat menakjubkan dan meyakinkan, tetapi perbuatannya bertentangan dengan ucapan mereka sendiri.

Di depan kita mereka mengaku pembela kebenaran, penegak keadilan, pejuang hak asasi manusia, dan pendekar demokrasi. Tetapi, ternyata mereka adalah penghalang kebenaran, perusak keadilan, pelanggar hak asasi manusia, dan penghambat demokrasi.

Mereka juga mengaku pembela rakyat dan penolong kaum lemah, ternyata mereka adalah penipu (pengkhianat) rakyat dan zhalim terhadap kaum lemah. Bahkan, mereka dengan mudah berani bersumpah dengan nama Allah dan Alquran di atas kepalanya, tetapi tindakan mereka ternyata menipu Allah dan bertentangan dengan petunjuk-petunjuk Alquran.

''Orang-orang munafik, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf (baik) dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah. Maka, Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.'' (QS At-Taubah: 67).

Sebagai umat Islam, kita perlu selalu waspada terhadap tipu daya mereka. Jika tidak, tipu daya mereka dapat menghancurkan umat Islam itu sendiri. Khalifah Umar bin Khattab terbunuh karena ulah orang munafik. Demikian pula kerusuhan yang terjadi di masa Khalifah Usman bin Affan dan perang saudara yang terjadi di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Maka, tidak menutup kemungkinan kerusuhan, kekacauan, dan perseteruan yang terjadi selama ini juga karena ulah orang-orang munafik. Allah SWT melarang mereka diangkat menjadi teman kita atau pemimpin dan pembantu-pembantu kita (QS 4:144), karena mereka hanya akan merugikan kita. Dengan jalan inilah insya Allah kita tidak akan salah memilih pemimpin-pemimpin atau pembantu-pembantu munafik yang hanya akan merugikan kita.

Sumber : Republika Online


Ayo Berjamaah


Rasulullah saw bersabda, ''Tidaklah tiga orang yang berdiam di suatu kota atau suatu desa yang di antara mereka tidak ditegakkan salat jamaah, melainkan setan telah menguasai mereka. Oleh karena itu, engkau wajib berjamaah. Sebab, sesungguhnya serigala itu hanyalah akan memangsa kambing yang sendirian.'' (HR Abu Dawud, Nasai, Ahmad, dan Hakim). Islam tidak lepas dari konteks kehidupan berjamaah. Bahkan ada hukum yang secara langsung berkaitan dengan jamaah, seperti salat, puasa Ramadan, ibadah haji, jihad fi sabilillah, dan dakwah.

Syariat Islam memberikan penghargaan yang sangat tinggi terhadap pelaksanaan salat berjamaaah lima waktu, yaitu 25 atau 27 kali salat sendirian di rumahnya. Salat Isya berjamaah di masjid diberi ganjaran setengah pahala salat malam. Salat Subuh berjamaah di masjid diganjar seperti pahala salat tahajud sepanjang malam.

Siapa saja yang melangkahkan kaki menuju masjid untuk salat berjamaah, pada setiap langkahnya itu satu dosa dihapuskan dan satu derajatnya ditinggikan (HR Al-Khamsah dari Abu Hurairah RA).

Betapa beruntungnya orang berdisiplin dalam melaksanakan kewajiban salat berjamaah dan betapa ruginya orang yang melalaikan salat berjamaah. Masjid dan salat berjamaah lima waktu merupakan media dan instrumen yang sangat vital bagi persatuan dan kesatuan umat, juga mewujudkan persaudaraan lahir batin bagi umat Islam yang ada di sekitarnya.

Ibadah Haji adalah instrumen Islam untuk mempersatukan umat Muslim sedunia. Semuanya memiliki satu kesatuan niat, tujuan, harapan, sikap, dan gerakan. Itu semata-mata kepasrahan dan ketundukan kepada Allah Rabbul Alamin. Sejarah mencatat para khalifah selalu bertemu tiap musim haji dengan para wali (gubernur) yang datang dari berbagai penjuru wilayah negara Khilafah Islamiah.

Kekompakan pasukan mujahid Islam di masa lalu sangat menggentarkan pasukan kafir yang menjadi musuhnya. Alkisah suatu ketika beberapa orang intelijen musuh sedang mengintai pasukan Muslim di tepi sungai.

Tiba-tiba ada yang berteriak di antara mereka, ''Piringku! Piringku!'' Serta merta kawan-kawannya terjun ke sungai mencari piring saudaranya itu. Intelijen musuh berkata, ''Kalau terhadap piring kawannya yang hilang saja mereka begitu peduli, apalagi terhadap nyawa temannya?''

Sikap kompak dalam kesatuan pasukan dan sikap mencari syahid demi tegaknya kalimat Allah yang tertanam pada tiap-tiap prajurit Muslim itulah yang senantiasa memenangkan pertempuran dan menjadi terkenal sebagai pasukan tak terkalahkan. Itu semua berkat tradisi berjamaah yang merupakan ajaran pokok dalam syariat Islam. Ayo berjamaah. Ayo menuju kemenangan!

Sumber : Republika Online


Ancaman Pornografi


Pornografi dapat diidentifikasi sebagai penyakit sosial yang amat berbahaya. Dalam bahasa agama, pornografi dapat disebut sebagai biang kejahatan (umm al-khaba'its). Dikatakan demikian, karena pornografi dapat menimbulkan keburukan-keburukan lain dalam masyarakat. Pornografi dapat melemahkan ikatan-ikatan moral, serta mendorong timbulnya pola kehidupan baru yang cenderung permisif dan hedonistik.

Ancaman pornografi kini kian meningkat, tidak saja pornografi, tetapi juga pornoaksi. Pada yang pertama, kategori porno berbentuk foto atau gambar (grafis), sedangkan pada yang kedua (pornoaksi) berbentuk perbuatan atau perilaku. Tentu, yang kedua ini lebih mengancam, karena sifatnya yang langsung (live), konkret (externalized), dan menantang (interested).

Dalam bahasa Alquran, pornografi atau pornoaksi itu disebut tabarruj. Menurut para pakar tafsir, tabarruj berarti mempertontonkan segi-segi keindahan wanita (idzhar-u mahasin-i al-mar'at-i), atau memamerkan sesuatu yang menurut kelayakan harus ditutup (idzhar-u ma yajib-u ikhfa'uh-u). Firman Allah, "Dan hendaklah kamu jangan berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu." (QS al-Ahzab: 32).

Tabarruj seperti tersebut dalam ayat di atas menunjuk pada kebiasaan wanita zaman jahiliyah. Mereka biasa berdandan secara berlebihan dengan memperlihatkan perhiasan dan segi-segi keindahan tubuh mereka. Ini dilakukan justru ketika mereka hendak keluar rumah.

Kebiasaan mereka dalam hal ini kelihatannya tidak berbeda dengan wanita masa kini. Ini berarti, kebiasaan wanita pada zaman jahiliyah dulu (jahiliyyat al-ula) telah muncul kembali pada zaman jahiliyah modern sekarang (jahiliyyat al warn al'isyrin).

Wanita-wanita beriman diperintahkan agar meninggalkan kebiasaan jahiliyah. Mereka diminta agar lebih menjaga diri, dengan mengendalikan pandangan, menutup aurat, mengenakan kerudung atau jilbab, dan sama sekali tidak dibenarkan melakukan tabarruj (QS al-Nur: 31). Dalam suatu hadis, Rasulullah SAW melarang wanita dewasa membuka aurat. Dikatakan, aurat wanita adalah seluruh badannya, kecuali dua hal sebagai pengecualian, yaitu wajah dan telapak tangan (HR Abu Daud).

Dalam riwayat lain disebutkan, ketika diturunkan ayat 31 surat al-Nur di atas, wanita-wanita Muslimah serentak menutup kepala dan leher mereka. Bahkan, ada di antara mereka yang merobek kain sarung mereka sebagai kerudung atau jilbab.

Jadi, perintah agar wanita Muslimah menutup aurat, menjaga kesopanan, dan kepantasan dengan berkerudung atau berjilbab, bukanlah masalah khilafiyah, tetapi ajaran Islam yang sebenar-benarnya berdasarkan Alquran dan As-Sunah.

Setiap Muslim, setingkat dengan kemampuan yang dimiliki, harus berusaha melawan pornografi dan pornoaksi. Usaha ini dirasakan makin penting dilakukan di tengah-tengah ancaman pornografi dan pornoaksi yang semakin menggila dewasa ini.

Sumber : Republika Online


Amar Ma'ruf Nahi Munkar


Rasulullah Saw bersabda, "Bersungguh-sungguhlah kalian dalam menyeru yang makruf, bersungguh-sungguh pulalah kalian dalam mencegah yang munkar. Jika tidak, maka Allah akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang buruk di antara kalian, dan doa orang-orang baik di antara kalian (tetapi diam terhadap kemunkaran) tidak akan dikabulkan oleh Allah," (HR Imam Bazzar).

Hadis di atas menjelaskan kepada kita akan kewajiban setiap Muslim untuk senantiasa melakukan aktivitas dakwah Islamiyah. Kita diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk senantiasa menegakkan kebenaran di manapun kita berada, dan dalam posisi apa pun. Seorang hakim yang baik, pastilah ia akan berusaha melandaskan keputusannya pada prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran.

Tidak mungkin ia akan melakukan berbagai upaya penyelewengan hukum. Ia akan bersikap tegas dan jujur, walaupun kasus yang sedang ditanganinya melibatkan kaum elite dan para pemimpin. Seorang politisi yang jujur, pastilah ia akan mengatakan kebenaran yang hakiki tanpa harus melakukan kebohongan publik.

Ia tidak akan memiliki keberanian untuk mempermainkan kepentingan rakyat demi memuaskan keinginan pribadinya. Begitu pula halnya dengan berbagai pekerjaan lainnya, seorang Muslim harus memiliki komitmen yang kuat untuk menegakkan amar makruf dan nahi munkar. Ia tidak boleh berdiam diri manakala melihat berbagai bentuk kezaliman dan kemunkaran.

Bila umat Islam tidak melakukan kegiatan amar makruf nahi munkar, maka Allah akan menimpakan dua akibat. Pertama, Allah akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang buruk di antara komponen suatu masyarakat dan bangsa. Seluruh aspek kehidupan akan dikendalikan dan diarahkan oleh orang-orang yang tidak bermoral, baik itu aspek politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, pertahanan keamanan, maupun aspek-aspek kehidupan lainnya. Yang akan terjadi adalah berbagai kehancuran dan kerusakan. Azab akan turun silih berganti.

Kedua, Allah tidak akan mengabulkan doa orang-orang baik di antara mereka, tetapi orang-orang baik tersebut diam dan tidak berbuat sesuatu untuk mencegah terjadinya kemaksiatan. Untuk itulah umat Islam harus senantiasa melakukan proses koreksi dan introspeksi secara terus-menerus. Bukan tidak mungkin, keterpurukan bangsa ini disebabkan oleh kelalaian umat Islam dalam beramar makruf dan nahi munkar.

Sumber : Republika Online


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

HACKING

Terbaru >>

Top Post >>

 

S E R V I C E ' s aLL ShArE Copyright © 2010 Endy_Djubu is Designed by 3nfitry