My Profile

Sabtu, 17 Maret 2012

Hak dan Ketidakbenaran


Dan katakanlah, ''Kebenaran datang dan ketidakbenaran telah lenyap.'' Sesungguhnya kesiasian itu pasti lenyap. (QS Al-Isra: 81).
Beberapa waktu lalu sekelompok orang berdemonstrasi menentang aturan yang meniadakan peluang mereka memurtadkan generasi, anak umat Islam. Ada seorang artis mengkritik artis pengumbar aurat di tempat umum dan di televisi.

Namun, di sisi lain banyak sekali yang berteriak lantang agar pengumbaran aurat itu, dengan dalih hak asasi dan kreasi seni, jangan diintervensi atau diharamkan dengan ayat-ayat Alquran.

Hak dan ketidakbenaran akan selalu bertarung. Pertarungan telah dimulai sejak Nabi Adam AS diciptakan bersama istri, Hawa, yang mendapat nikmat tinggal di surga. Iblis, bapak segala kesia-sian, membuat tipu daya untuk mengeluarkan Adam dan istrinya dari surga (QS Al-Baqarah: 36). Iblis dengki terhadap Adam yang mendapat tempat mulia di sisi Allah.

Dengki membuat dia ingkar kepada perintah Allah. Ia lalu kufur. Iblis dihukum dengan dikeluarkan dari surga. Iri dan dengki berubah menjadi dendam. Iblis bersumpah di hadapan Allah akan membawa seluruh anak Adam ke dalam neraka. (QS Al-A'raf: 16--18).

Itulah pangkal ketidakbenaran dan penyesatan di muka bumi ini. Ketidakbenaran adalah kekufuran dan penolakan terhadap kebenaran. Penyesatan adalah upaya iblis dan para pengikutnya untuk mengeluarkan Adam dan anak keturunannya dari jalan kebenaran Allah SWT.

Namun, Allah SWT tidak menzalimi hamba-Nya dan tidak membiarkan begitu saja anak Adam dimangsa Iblis dan anak cucunya. Bahkan sejak Adam di surga, sampai turun ke bumi pun Allah SWT telah memberikan petunjuk dan peringatan agar hamba-Nya selamat. Allah berfirman kepada Adam dan Hawa, ''Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepada kalian, 'sesungguhnya setan itu adalah musuh nyata bagi kamu berdua'.'' (QS Al-A'raf: 22).

Larangan mendekati pohon kayu adalah kebenaran yang Allah SWT titahkan kepada Adam dan istrinya. Namun, iblis tidak rela terhadap kenyataan itu. Lalu ia membuat tipu daya agar kebenaran tertutupi di depan mata Adam dan istrinya, sehingga keduanya pun tergelincir dari kenikmatan dan kedudukan mulia itu. Mereka diturunkan ke muka bumi.

Namun, Allah tetap membentengi Adam dan anak cucunya dari serangan Iblis dan keturunannya. Dia berfirman, ''Ini adalah jalan lurus, kewajiban Aku-lah [menjaganya]. Sesungguhnya hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang sesat.'' (QS Al-Hijr: 39--42).

Akhirnya, dengan tetap berpegang teguh kepada jalan kebenaran yang ditunjukkan Allah, kita bisa mengalahkan berbagai kesia-sian dan kesesatan yang ditembakkan Iblis dan bala tentaranya.

Sumber : Republika Online


Hadiah


Memberi sesuatu pada orang lain pada dasarnya adalah suatu perbuatan shalih. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk dapat memberikan sesuatu yang berguna pada orang lain. Beliau pernah bersabda, ''Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah.'' Namun, bagaimana kalau hadiah atau pemberian itu bernuansa politis?

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah menyalahkan tindakan Ibnu Lutbiyah yang mengambil hadiah yang didapatnya waktu sedang menjabat sebagai petugas pengumpul zakat. Tentang sikap Ibnu Lutbiyah tersebut, Rasulullah SAW bersabda, ''... dengan wewenang yang diberikan Allah kepadaku, aku mengangkat seseorang di antara kalian untuk melaksanakan suatu tugas, (tetapi) dia datang melapor, 'Ini untuk engkau dan ini untukku sebagai hadiah.' Jika ia duduk saja di rumah bapak dan ibunya, apakah hadiah itu datang sendiri kepadanya, kalau barang itu memang sebagai hadiah? Demi Allah seseorang tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, melainkan ia menghadap Allah nanti pada hari kiamat dengan membawa beban yang berat dari benda itu.'' (HR Muttafaqun 'Alaih).

Rasulullah SAW khawatir hadiah yang diberikan kepada Ibnu Lutbiyah dalam statusnya sebagai petugas pengumpul zakat tidak murni sebagai hadiah, tetapi ada maksud lain dari yang memberinya. Hal ini akan berpengaruh negatif bagi kebijakannya. Hadiah yang demikian bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan sikap kritisnya dalam menghitung berapa kewajiban zakat seseorang, karena lidahnya sudah terhimpit oleh hadiah yang diterimanya. Bahkan bisa saja pada saatnya nanti terjadi kolusi antara wajib zakat dan petugas.

Kasus Ibnu Lutbiyah dapat kita analogkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua komisi yang diterima seorang petugas dalam rangka menjalankan tugasnya bukanlah haknya. Karena, seandainya dia tidak menjabat sebagai petugas, tentu hadiah tersebut tidak diberikan padanya, termasuk juga jabatan pemilih dalam pemilu bagi rakyat yang telah mempunyai hak pilih.

Dengan kata lain, pemberian hadiah tersebut tak jauh berbeda dengan sogokan atau korupsi untuk mendapatkan tender, fasilitas, kemudahan, dispensasi, nilai baik, pembebasan hukuman, jabatan tertentu, atau pun suara rakyat dalam pemilu. Sehingga, sesuatu yang seharusnya tidak didapatkan bisa menjadi didapatkan karena mau memberi hadiah tersebut.

Pemberian atau sedekah bertendensi ini tak jauh berbeda dengan perilaku kemunafikan (keshalihan palsu). Ia bisa menjadi bumerang bagi cita-cita keadilan, potensial bagi tindak kezaliman, serta pemicu kesenjangan dan pertikaian.

Apabila hal itu dilakukan, maka bisa jadi orang yang seharusnya tidak lulus menjadi lulus, yang seharusnya dihukum menjadi bebas, yang mendapat tender atau fasilitas pun adalah orang yang mau memberi hadiah, serta yang terpilih menjadi anggota legislatif dan presiden bukanlah mereka yang berpotensi dan memiliki kredibilitas tertinggi tetapi mereka yang mau memberi hadiah alias menyogok.

Sumber : Republika Online


Fir'aunisme


''Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang yang berbuat kerusakan.'' (QS Al-Qashas: 4)

Melalui ayat ini, Allah SWT menjelaskan ada empat sifat yang melekat pada diri Firaun. Pertama, perbuatan sewenang-wenang di bumi. Firaun adalah penguasa yang memiliki kekuatan dan kekayaan besar, tidak ada yang menandingi kekuasaan itu pada masanya.

Oleh karena itu, ia merasa berhak untuk mengatur, mengurusi, dan bahkan melakukan apa saja sesuka hati, walaupun seluruh manusia di dunia ini menentangnya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengemukakan bahwa sewenang-wenang di muka bumi memiliki tiga arti, yaitu sombong, pemaksaan kehendak, dan pelampauan batas. Itu semua melekat pada Firaun.

Kedua, pemecahbelahan penduduk bumi. Pemecahbelahan merupakan taktik paling efektif dan efisien untuk melumpuhkan musuh-musuh yang mengincar kekuasaanya. Inilah yang dilakukan Firaun terhadap lawan-lawan politiknya guna mempertahankan kekuasaannya.

Ia mengadu domba antarsuku, antarbangsa, antarorang yang memiliki pengaruh, dan antargolongan. Ketika lawan-lawan politiknya saling bertikai, ketika itu pulalah ia semakin memperkokoh cengkeraman kekuasaannya.

Ketiga, Penindasan segolongan dari mereka. Bani Israil merupakan golongan yang dibenci serta ditindas oleh Firaun. Penindasan bisa terjadi karena kekhawatiran bahwa kaum tersebut memiliki potensi untuk merebut atau menghancurkan kekuasaannya.

Keempat, penyembelihan anak laki-laki dan pembiaran hidup anak perempuan. Ibnu Katsir mengemukakan bahwa kebijakan ini dilakukan oleh Firaun karena ia bermimpi yang ditakwilkan bahwa ada seorang anak laki-laki yang dilahirkan di negerinya, yang dapat menghancurkan kekuasaannya.

Firaun telah tiada pada zaman ini, tetapi Firaunisme tetap ada dan hidup pada zaman sekarang bahkan hingga akhir zaman. Firaunisme dapat berbentuk institusi, organisasi, dan negara.

Negara kafir itu membasmi habis embrio umat Islam dan membiarkan hidup embrio umat Yahudi. Dahulu Afghanistan, sekarang Irak, mungkin nanti Suriah, Iran, dan negeri Islam lainnya. Sejarah senantiasa berulang.

Maka renungkanlah wahai umat Islam, bahwa Firaunisme begitu besar dan mengangkangi negeri-negeri kaum Muslimin sampai hari ini. Namun, kekuatan Firaun dapat dikalahkan oleh seorang Nabi Musa AS dengan kekuatan ajaran Allah SWT. Bangkitlah wahai umat!

Sumber : Republika Online


Dosa Kolektif


Dari Abi amr, jarir ibnu abdillah rodiyallahu anhu, telah bersabda Rosullullah SAW: Barang siapa di dalam Islam berbuat amal kebaikan maka padanya balasan pahala, dan pahala orang yang mengikuti sesudahnya tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun, dan barang siapa di dalam Islam berbuat amal keburukan maka padanya balasan dosa, dan dosa orang yang mengikutinya sesudahnya tanpa mengurangi dosanya sedikit pun (Muslim).

Keberkahan yang amat besar dan kenistaan yang amat besar pula bagi manusia, apabila benar-benar merenungi hadits ini. Betapa tidak, dalam kehidupannya manusia hanya diliputi oleh dua perbuatan, yaitu perbuatan baik dan perbuatan buruk. Tanpa kita sadari perbuatan baik kita dapat berimbas kebaikan bagi orang lain, tapi di lain pihak perbuatan buruk kita dapat berefek merugikan bagi orang lain.

Seandainya kita masih dapat mengingat kembali dan menghitung perbuatan kita, kemudian dengan itu kita dapat mengetahui berapa keburukan dan kebaikan yang harus ditambahkan pada pahala dan dosa kita. Karena kebaikan yang telah kita lakukan telah banyak dicontoh orang lain sehingga membawa kemaslahatan bagi semua orang. Selain itu juga kita harus berpikir dari sekian ribu keburukan yang telah kita lakukan, berapa banyak keburukan yang telah dicontoh orang lain, sehingga menjadikan koleksi dosa yang harus di pertanggungjawabkan semakin banyak. Timbulnya contoh yang buruk dapat menyebabkan hancurnya tatanan keteladanan.

Padahal keteladanan adalah kunci utama untuk memperbaiki akhlak. Kekuatan keteladanan lebih dapat diterima orang lain daripada sekadar nasihat-nasihat kosong tanpa implementasi. Setiap orang yang dinasihati pasti akan mencoba menilai perbuatan orang yang menasihati sebelum menerima wejangannya. Keberhasilan Rosulullah SAW dapat kita jadikan landasan dasar dari sikap tersebut. Dalam berdakwah beliau tidak hanya melemparkan wacana kosong kepada orang yang di dakwahi. Lebih dari itu beliau langsung menjadikan nasihat-nasihat beliau sebagai cara kehidupan beliau. Sehingga tidak ada celah sedikit pun untuk menelaah sikap beliau yang tidak sesuai dengan perkataannya.

Ketika beliau menyampaikan wahyu dari Allah Alquran pastilah beliau sudah dapat melaksanakan apabila itu sebuah perintah dan sudah pasti sudah bisa meninggalkan apabila itu sebuah larangan. Inilah bukti kebenaran perkataan Aisyah radiyallahuanha ketika ditanya perihal ahlak Rosulullah SAW, dan beliau menjawab bahwa akhlak rasulullah SAW adalah Alquran.

Contoh keburukan yang terus diikuti akan menjadi suatu masalah yang kompleks. Satu orang yang melalukan kemudian diikuti satu orang lain sehingga menjadi kumpulan komunitas yang melakukan sebuah aktivitas yang sama. Terkadang kita tidak pernah tahu siapa yang memulai dan sampai kapan perbuatan itu akan berlanjut.

Adalah Abu Al-hasan Al-asy`ary salah satu penganut aliran mu`tazilah yang sebelum akhir hayatnya bertaubat kemudian kembali berpedoman kepada sumber yang dapat dipercaya, yakni Alquran dan As-sunah. Beliau meniggalkan keragu-keraguannya dalam membela assunah dan menjelaskan akidah yang baik. Di hari beliau meninggal atas jenazahnya di kumandangkan: "Hari ini telah meninggal seorang tokoh pendukung As-sunah".

Sikap Abu Alhasan Al-asyary ini merupakan contoh dari pengakuan seorang terhadap kesalahannya. Dan diumumkan kepada halayak luas agar kesalahan yang telah diperbuat tidak diikuti orang lain, karena dapat menjadi sumber keburukan bagi orang lain. Beliau memutus rantai estafet yang beliau mulai dengan maksud menghilangkan dosa yang akan dibuat oleh para pengikutnya yang akan menjadi tanggung jawab beliau.

Seorang yang menjadi sumber kebaikan dan suri teladan bagi orang lain akan menerima balasan yang berlipat ganda. Begitu juga sebaliknya tanggung jawab seorang yang berbuat buruk kemudian perbuatan itu diikuti orang banyak, dosa dari semua yang mengikuti akan ditanggung oleh si sumber perbuatan, seperti ada pepatah yang berbunyi: Siapa yang menabur benih maka bersiaplah untuk menuai hasilnya kelak. Wa Allahu a`lam bishawaf.
Sumber : Republika Online


Cinta Rasulullah


Dalam sejarah Islam kita akan mendapati betapa kesetiaan dan kecintaan para sahabat yang tiada taranya terhadap Nabi Muhammad SAW. Zaid bin Ad Du-Tsunnah ketika hendak dihukum pancung kaum Quraisy, oleh Abu Sufyan ditanya, ''Zaid! Relakah engkau andai kata Muhammad berada pada tempatmu, sedangkan engkau aman tenteram di tengah-tengah keluargamu?

''Dengan tegas Zaid menjawab, ''Jangan kan yang itu, bahkan di saat aku dalam keadaan seperti sekarang ini, aku tak akan rela andai kata Rasulullah dicucuk duri di rumah beliau.'' Menyaksikan betapa cinta Zaid dan bersedianya dia menebus Rasulullah dengan jiwa raganya, Abu Sufyan menggeleng-gelengkan kepala.

Katanya, ''Saya belum pernah melihat seseorang yang dicintai oleh para sahabatnya seperti mereka mencintai Muhammad.'' Kemudian Zaid dipancung batang lehernya, gugur sebagai syahid. Zaid melambangkan cinta kasih, iman, dan loyalitas yang tidak ada taranya terhadap Islam.

Seorang tawanan Quraisy lainnya adalah Khubaib bin Ady. Ketika hendak dipancung, dia terlebih dahulu minta dibolehkan shalat dua rakaat. Setelah shalat, ia berkata, ''Demi Allah! Andai kata aku tidak khawatir kalian menyangka aku gentar menghadapi maut, niscaya shalatku akan lebih panjang lagi.''

Sebelum dibunuh ia disalib dulu. Ketika itu Khubaib mengarahkan pandangannya yang memancarkan kilatan seraya berdoa, ''Ya Allah! Bilanglah jumlah mereka! Bunuhlah mereka satu demi satu, dan janganlah seorang pun dari mereka ditinggalkan!'' Mendengar doa itu pihak Quraisy terperanjat dan bertiarap, khawatir terkena kutukan doanya.

Mengetahui dirinya akan dihukum mati, Khubaib yang menjadi tawanan tokoh Quraisy Uqbah bin Harris terlebih dulu meminta pisau cukur untuk membersihkan dirinya dalam menghadapi maut. Ketika sedang bercukur, tiba-tiba anak yang empunya rumah yang baru pandai berjalan tertatih-tatih mendatanginya. Anak tadi duduk di atas pangkuannya, dan Khubaib membelainya dengan mesra.

Tatkala istri Uqbah melihat anaknya dalam keadaan serupa itu, dengan cemas diambilnya anak itu dan dibawanya pergi. Khubaib pun berkata, ''Anda khawatir kalau-kalau anak itu saya bunuh. Ketahuilah, bahwa agama saya melarang penganutnya bertindak khianat. Karena itu, anak Anda ini tidak akan saya cederai, apalagi membunuhnya.''

Pernah seorang pemuka Quraisy di Mekah begitu kagum mendapati kesetiaan para sahabat terhadap Rasulnya, hingga ia mengatakan, ''Aku pernah menyaksikan Kisra di Persia, Kaisar di Byzantium, dan Najasi di Etiopia. Namun, aku tidak pernah menyaksikan seorang raja di tengah-tengah kaumnya, seperti Muhammad di tengah-tengah sahabat-sahabatnya.

Sesungguhnya mereka tidak akan menyerahkan Muhammad walau bagaimanapun.'' Begitulah seharusnya sikap umat Islam kepada Rasulullah Muhammad SAW. Karena Rasulullah sudah wafat, kecintaan kepada beliau adalah dengan mengamalkan ajarannya dan meneladani perilakunya.

Sumber : Republika Online


Pendidikan Unggul


''Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.'' (QS Al-Mujadilah: 11). Ajaran Islam meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Islam memperhatikannya dengan porsi yang sangat besar.

Bahkan keseluruhan ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah merupakan materi pendidikan dan ilmu pengetahuan yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh agama lain, maupun ideologi lain. Sejarah mencatat bahwa bangsa Arab yang buta huruf, dengan pendidikan Islam telah berubah menjadi bangsa pelopor, menerangi dunia dan menjadi guru dunia.

Pendidikan adalah pemindahan nilai-nilai Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah; pandangan hidup Islam; dan berbagai pengetahuan Islam; seperti tafsir, ulumulquran, ulumulhadis, fikih, ushulfikih, bahasa Arab, nahu, sorof, dan sirah Nabi saw; yang mempertebal pemahaman para peserta didik. Bekal ini diharapkan menjadi pengendali tingkah laku.

Selain itu, peserta didik dibekali berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan teknologi untuk menambah kemampuan mereka menjalani hidup dengan tetap berpegang kepada akidah Islam.

Dengan proses pendidikan Islam, para peserta didik diharapkan dapat meningkat akal budinya, sehingga dapat mensyukuri nikmat Allah berupa pancaindera dan kalbu yang dimilikinya (QS An-Nahl: 78) dan tidak terjatuh ke derajat yang lebih rendah dari ternak (QS Al-Araf: 179).

Islam telah mendorong agar manusia menuntut ilmu dan membekali diri dengan pengetahuan. Allah SWT berfirman, ''Katakanlah, 'Adakah sama orang berpengetahuan dengan orang yang tidak berpengetahuan? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran'.'' (QS Az-Zumar: 9).

Rasulullah saw mengabarkan betapa tingginya kedudukan orang-orang berilmu (ulama). Ia mendapatkan kehormatan untuk memberikan syafaat bagi umat pada hari kiamat dengan izin Allah. Beliau bersabda, ''Ada tiga golongan yang akan memberikan syafaat pada hari kiamat: para nabi, para ulama, dan para syuhada.'' (HR Ibnu Majah)

Dengan bekal ilmu Islam yang dimiliki secara sempurna, seorang Muslim atau masyarakat Muslim dapat mensterilkan ide-ide maupun hukum-hukum kufur. Mereka akan memandang Islam lebih tinggi daripada yang lain dan hukum Islam lebih baik daripada hukum jahiliah (QS Al-Maidah: 50). Mereka tidak silau oleh kemajuan sains dan teknologi Barat.

Mereka memandang sains dan teknologi bersifat universal, bisa digali dan dimiliki oleh siapa pun. Pengadopsian hal itu bukan otomatis harus mengadopsi pemikiran, etika, hukum, dan budaya barat. Allah SWT mengajarkan kepada kita, ''Bertaqwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarkan ilmu kepada kalian!''

Sumber : Republika Online


Penemuan Tuhan



Sosok dalam keremangan senja itu tercenung. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat bintang, lalu dia berkata, ''Inilah Tuhanku''. Namun, tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, ''Saya tidak suka kepada yang tenggelam.'' Kemudian, tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, ''Inilah Tuhanku''.

Namun, setelah bulan itu terbenam, dia berkata, ''Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang sesat.'' Kemudian, tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, ''Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'', maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, ''Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.'' (QS Al-An'am: 76--78).

Demikianlah, proses pencarian sang Pencipta yang pernah dilakukan oleh Bapak Para Nabi, Ibrahim Khalilullah, dengan memahami fenomena alam disertai dengan kesadaran jernih, dimulai dari awal rangkaian sebab-sebab dan mencapai penemuan Tuhan Alam Semesta.

Begitu pula kita, tiap-tiap kita telah dianugerahi kemampuan untuk meneliti alam dengan pandangan komprehensif. Melalui indra, kita tidak lagi melihat alam sebagai sekadar kumpulan bagian-bagian yang saling terisolasi, tetapi harus dapat memperhatikan kesalinghubungan di antarbagian itu dan kesamaan asal-usulnya.

Peredaran matahari dan bulan (QS Ar-Rahman: 5), turunnya hujan dan ragam buah-buahan (QS Al-Baqarah:22), tiupan angin untuk penyerbukan (QS Al- Hijr: 22), geografi dan kosmologi (QS Al-Ghasyiyah: 18--20), dan manfaat besi (QS Al-Hadid: 25), adalah sebagian dari fenomena alam yang harus secara integral kita pahami. Kemudian sampailah pada kesimpulan dan keyakinan tentang keberadaan Tuhan, Sang Pencipta (QS Fussilat:53).

Selanjutnya, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa beliau diutus kepada seluruh manusia sejak zamannya hingga akhir zaman nanti, dengan membawa Alquran sebagai mukjizat, untuk melemahkan (li ikjazi) argumentasi orang-orang kafir. Telah terbukti bahwa Alquran itu adalah benar-benar kalam Allah, bukan buatan Muhammad SAW yang ummi, ataupun buatan penyair-penyair Arab tersohor (QS Al-Baqarah:23).

Terakhir, dengan diutusnya Rasulullah SAW dan pemberitahuan Alquran, barulah kita mengetahui bahwa Tuhan (Ilah) itu adalah Allah, seperti dijelaskan dalam Surat Luqman ayat 25, ''Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah'. Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah', tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.'' Wallahu a'lam.

Sumber : Republika Online


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

HACKING

Terbaru >>

Top Post >>

 

S E R V I C E ' s aLL ShArE Copyright © 2010 Endy_Djubu is Designed by 3nfitry