My Profile

Sabtu, 17 Maret 2012

Tipe-tipe Wanita Dalam Alquran


Ada sebuah ilustrasi menarik. Kalau kita masuk ke toko yang menjual pakaian wanita, pastilah kita akan mendapatkan begitu banyak pakaian dengan berbagai macam corak dan jenisnya. Pilihan, tentu sepenuhnya ada di tangan kita, tidak di tangan orang lain, karena kita yang akan mengenakan pakaian tersebut.

Begitu pun seorang wanita ketika berada di tengah-tengah masyarakat, ia bisa memilih tipe-tipe kepribadian yang disukainya. Tentang hal ini Alquran menjelaskan empat tipe wanita.
Pertama, tipe wanita dengan kepribadian kuat. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah, istri Fir'aun. Walaupun berada dalam "cengkeraman" Fir'aun, ia tetap teguh menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang Muslimah.

Allah SWT mengabadikan doanya dalam Alquran, ''Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim (QS. At-Tahrim: 11).
Kedua, tipe wanita yang berusaha menjaga kesucian dirinya. Tipe kedua ini diwakili oleh Siti Maryam. Dalam Surat Maryam ayat 20 disebutkan bahwa Maryam adalah seorang wanita suci yang tidak pernah disentuh seorang lelaki pun.

Karena keutamaan inilah, Allah SWT berkenan mengabadikan namanya menjadi nama salah satu surat dalam Alquran dan menjadikannya ibu dari seorang nabi yang agung.
Ketiga, tipe wanita penghasut, penebar fitnah, penggemar gosip, dan sangat buruk hatinya. Ia adalah Hindun, istrinya Abu Lahab. Alquran menjuluki wanita ini sebagai "pembawa kayu bakar" atau wanita penyebar fitnah dan permusuhan. Allah SWT berfirman, ''Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa dan demikian pula istrinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut.'' (QS. Al-Lahab: 1-5).

Dalam sejarah diceritakan bagaimana "kehebatan" Hindun dalam menyebarkan gosip dan fitnah tentang Rasulullah SAW. Hindun pun dikenal sebagai partner terbaik Abu Lahab untuk menghambat dakwah Islam.
Keempat, tipe wanita penggoda. Tipe ini diperankan oleh Siti Zulaikha. Petualangan Zulaikha dalam menggoda Yusuf, dijelaskan dalam Alquran Surat Yusuf ayat 23, ''Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya, menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu seraya berkata, "Marilah ke sini," Walaupun para tokoh yang dikisahkan dalam Alquran tersebut hidup ribuan tahun yang lalu, tapi karakteristik dan sifatnya tetap abadi hingga sekarang.

Ada tipe wanita pejuang yang kokoh keimanannya. Ada tipe wanita yang tegar dalam menjaga kesucian dirinya. Ada tipe wanita penghasut, dan ada pula tipe wanita penggoda. Tinggal keputusan kita mau memilih yang mana. Memilih yang pertama dan kedua, maka kemuliaan yang akan kita dapatkan. Sedangkan kalau memilih tipe ketiga dan keempat, enak memang karena nafsu terpenuhi, tapi lambat laun kehinaan dunia dan akhirat akan kita dapatkan.
Wallahu a'lam bisshawab.

 
Acara : MQ Pagi
Waktu : Rabu, 10 Maret 2004
Tema : Kajian Muslimah

sumber : republika Online


Tidak Membebani Orang Lain


Dalam berusaha dan bekerja di kantor atau berbisnis, orang yang memiliki kehormatan dan harga diri hanya mengantungkan harapannya kepada Allah saja, orang lain ditempatkan sebagai mitra. Dia tidak mau meminta-minta dan menjadi beban bagi orang lain. Pantang baginya untuk menjilat kepada atasan, karena ia meyakini bahwa kewajibannya hanya berusaha dan bekerja sebaik mungkin sedangkan rizki datangnya dari Allah SWT.

Dia berusaha menjaga kredibilitas dengan memelihara kepercayaan orang lain serta berusaha meningkatkan ilmu dan kecakapan. Apabila melakukan kesalahan, cepat menyadari dan dengan lapang hati menerima kritikan dan saran, serta segera memperbaiki diri untuk dapat berbuat yang lebih baik.

Yang penting bukan mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, namun proses mendapatkan uang tersebut dilakukan dengan cara jujur dan terhormat. Sehingga saat uang diperoleh dapat dipastikan bahwa kehormatan dan harga diri lebih tinggi daripada uang yang didapatkan. Apa artinya kita punya harta benda yang berharga namun diri sendiri tak berharga.

Ada sebuah kisah tentang bagaimana seorang janda yang berusaha untuk hidup dengan tidak menjadi beban bagi anggota keluarga lainnya. Padahal wanita ini memiliki kakak-kakak yang hidup berkecukupan dan kaya. Namun wanita ini memilih bekerja membanting tulang untuk menyekolahkan anaknya. Dia tidak mau meminta-minta kepada kakak-kakaknya. Wanita ini memang terbatas ekonominya tapi tidak mau membatasi harga dirinya dengan meminta-minta. Karena ia yakin bahwa rizki dirinya dan anaknya sudah ada dalam janji Allah.

Inilah kekuatan iman. Marilah kita jalani hidup di dunia yang cuma sebentar dan sekali ini penuh dengan kehormatan. Sehingga kapanpun kita mati maka saat itulah keberuntungan kita. Kita tidak perlu takut mati. Namun hendaklah kita takut hidup dengan tergadai kemuliaan kita. Pastikan bahwa diri kita lebih mulia daripada harta benda benda atau asesori/topeng duniawi yang kita miliki.

 
Sumber : Jurnal MQ/ Vol.I/No.8 Desember 2001


Mengikis Fanatisme Hizbiyah


Fanatisme hizbiyah mengancam jalinan ukhuwah Islamiyah, mendorong seseorang hanya mau menerima informasi dan "kebenaran" dari satu sumber, yakni pemimpin atau anggota kelompoknya. Terbaginya umat Islam ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda (iftiroqul ummah) merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari.
Sebenarnya, iftiroqul ummah tidak menjadi masalah jika masing-masing kelompok memiliki sikap toleran, mengabaikan perbedaan (ikhtilaf) yang sifatnya "cabang" (furu'iyah) atau bukan "pokok" (ushuliyah), dan mengedepankan persamaan, yakni sama-sama Muslim. Pada masa Rasulullah sendiri sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat, namun tidak membuat mereka bercerai-berai, apalagi saling bermusuhan.

Kunci menyikapi perbedaan pendapat itu adalah keyakinan, bahwa kebenaran hakiki hanya Allah yang tahu. Para ulama dahulu, misalnya KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy'ari, Ibnu Taimiyah, bahkan "empat imam mazhab" sekalipun, tidak pernah mengklaim kebenaran itu sebagai miliknya. Kebenaran yang hakiki milik Allah semata, sedang usaha manusia merupakan sedikit percikan dari-Nya.

Para mujtahid besar, bahkan Rasulullah SAW sendiri begitu toleran terhadap perbedaan. Iftiroqul ummah akan menjadi bencana besar jika kaum Muslim yang ada di masing-masing organisasi terjangkiti penyakit ganas bernama fanatisme hizbiyah (fanatisme golongan), yakni merasa kelompoknya paling benar dan menafikan kebenaran pihak lain. Sikap demikian tidak saja bisa menjerumuskan ke jurang kemusyrikan (karena kebenaran hanya milik Allah), tetapi juga merusak ukhuwah Islamiyah.

Tegasnya, fanatisme hizbiyah akan memutuskan ikatan-ikatan kuat tali ukhuwah sekaligus melemahkan kekuatan umat Islam secara keseluruhan. Fanatisme hizbiyah yang parah bisa memunculkan sikap "mendua", misalnya menunjukkan wajah ceria dan salam hangatnya pada orang satu kelompok, sedangkan pada kelompok lain ia bermuka masam. Padahal mereka satu saudara, sama-sama Muslim. Bisa jadi pula, fanatisme hizbiyah akan membuat kita mengabaikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan kawan sekelompok, sementara jika orang lain di luar kelompok kita melakukan kesalahan yang sama, kita menggunjingkan dan menyebarluaskannya.

Fanatisme hizbiyah pun bisa menjadikan kita tidak mau belajar atau menimba ilmu kepada kelompok lain, melainkan hanya dari satu arah, yaitu hanya dari orang sekelompoknya. Itulah sumber lahirnya cara berpikir sempit, jumud, "bak katak dalam tempurung", serta tidak melihat melainkan hanya dari satu sudut pandang. Syekh Ali bin Hasan Al-Atsari dalam tulisannya mengemukakan, kaum hizbiyun biasanya melarang para pengikutnya untuk menimba ilmu dari orang-orang selain golongannya.

Kalaupun sikap mereka menjadi lunak, namun mereka akan memberikan kelonggaran dengan banyak syarat serta ikatan-ikatan yang njlimet, supaya akal-akal pikiran para pengikutnya tetap tertutup bila mendengar hal-hal yang bertentangan dengan jalan mereka atau mendengar bantahan terhadap bid'ah mereka. Menurutnya, hizbiyah mempunyai sepak terjang bid'ah yang tidak pernah dilakukan para salaf. Hal demikian teranggap sebagai penghambat ilmu dan sebab terbesar bagi terpecah belahnya jamaah.

Karena betapa banyaknya tali persatuan Islam telah terurai, dan betapa banyaknya kaum Muslim menjadi lengah karenanya. Jelaslah, fanatisme hizbiyah mengancam jalinan ukhuwah Islamiyah. Fanatisme demikian juga akan mendorong seseorang hanya mau menerima informasi, juga kebenaran atau yang dianggapnya benar, dari satu sumber, yakni pemimpin atau anggota kelompoknya. Klaim paling baik dan benar, dengan demikian, harus dienyahkan jauh-jauh dari diri kita, sebagai anggota organisasi mana pun.

Yang harus dikembangkan adalah semangat berlomba-lomba dalam kebaikan, dengan semangat ukhuwah yang tetap terjaga. Sesama aktivis dakwah, meski berbeda organisasi, hendaknya mengedepankan persamaan, yakni menegakkan syi'ar Islam. Perbedaan strategi dan teknis dakwah tidak boleh sampai membuat kita bermusuhan. Dalam situasi menjelang pemilu, kita sangat rentan bermusuhan karena perbedaan partai politik. Mari, kita singkirkan fanatisme hizbiyah dalam diri kita yang hanya akan mencelakakan diri dan umat keseluruhan.

Para politisi Muslim dan massanya kita harapkan menegakkan ukhuwah Islamiyah. Meski berbeda wadah politik, mereka diharapkan tetap bersaudara, bahkan berkoalisi atau beraliansi. Kita menyadari sepenuhnya, meski sama-sama beragama Islam, namun umat Islam berbeda dalam hal penafsiran, pemahaman, dan pengamalan agamanya, termasuk dalam bidang politik. Perbedaan demikian sah-sah saja, selama menyangkut furu', bukan menyangkut pokok seperti akidah.

Harapan akan bersatunya umat Islam dalam satu wadah organisasi, ormas ataupun orpol, sangat kecil kemungkinannya terpenuhi. Memang, selintas sangat mengherankan, mengapa partai-partai Islam itu tidak bersatu saja, toh sama-sama berasas Islam, sama-sama Muslim pula pengurus dan anggotanya, bahkan sama-sama menginginkan kejayaan Islam dan kaum Muslim. Apa alasan untuk berpecah dan terkotak-kotak dalam parpol berbeda? Demikian kira-kira pertanyaan kita.

Banyak hal penyebab perbedaan tersebut, antara lain adanya perbedaan strategi, selera, dan kepentingan. Hanya saja, perbedaan tersebut kita harapkan jangan lantas menimbulkan konflik, namun tetap berada dalam koridor ukhuwah Islamiyah dan kerangka persatuan umat. Kini, banyaknya partai dari kalangan umat Islam sudah tidak dapat dihindari, meski kemungkinan untuk bersatu tetap ada, namun dalam bentuk lain, misalnya koalisi atau aliansi strategis.

Apakah hal ini bertentangan dengan Alquran, 'dan berpegang teguhlah kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai'? Dr Yusuf Qardhawi dalam Fiqih Daulah (1997) menjelaskan, tidak ada nash yang melarang adanya multipartai dalam daulah Islam. Bahkan, boleh jadi multipartai sangat dibutuhkan pada zaman sekarang, sebab hal ini bisa mencegah otokrasi kekuasaan individu dan golongan tertentu yang akan diterapkan terhadap manusia.

Otokrasi kekuasaan akan menghalangi kekuatan yang memungkinkan untuk berkata "Tidak" atau "Mengapa" di hadapannya. Namun, Qardhawi mengingatkan, tidak boleh ada partai yang menyeru kepada ateisme, permisivisme, sekularisme, atau menganggap enteng hal-hal yang disucikan Islam. Qardhawi mengemukakan, multipartai dalam politik sama dengan multimadzhab dalam fikih. Para pengikut partai bisa diserupakan dengan para pengikut mazhab fikih.

Masing-masing orang mendukung mana yang dilihatnya lebih dekat dengan kebenaran dan memang lebih layak untuk didukung. Namun demikian, Qardhawi mengingatkan, jangan sampai terjadi taqlid dan fanatisme buta, serta menganggap para pemegang kekuasaan sebagai orang-orang yang suci. "Partai merupakan sarana untuk menghadapi dan memperhitungkan kekuasaan yang menyimpang, lalu mengembalikannya ke jalan yang benar, atau menggesernya dan menggantinya dengan yang lain," tulisnya. Elit politisi Muslim selayaknya menunjukkan kepada umat, bahwa berbeda bukan berarti saling benci. Kita berbeda partai, tapi kita tetap bersaudara, begitu idealnya bukan? Semoga! Wallahu a'lam.
sumber : republika Online


Menggenggam Waktu Meraih Prestasi Diri


Apakah yang menjadi resep teramat jitu, yang dimiliki para sahabat Nabi SAW yang menjadi balatentara Islam ketika itu, sehingga mereka mampu menaklukkan dua imperium adidaya, Romawi dan Persia, yang  balatentaranya amat kuat dan perkasa? Resepnya ternyata tersimpul dari pengakuan penuh kekaguman dari seorang anggota dinas intelejen Romawi setelah melakukan kegiatan mata-mata di Madinah. Kepada Kaisar Romawi ia mengutarakan kesannya tentang watak kaum muslimin, "Ruhbaanun bil-laili, firsaanun binnahaar!" Ya, mereka, kaum muslimin itu, kalau malam tak ubahnya seperti rahib, sedangkan kalau siang sungguh bagaikan singa!

Umat Islam ketika itu mampu memadukan dua kekuatan ikhtiar yang sungguh luar biasa, sehingga menghasilkan sesuatu yang, subhanallah, sangat luar biasa pula. Tubuh dan pikiran seratus persen digunakan untuk berikhtiar, bersimbah peluh berkuah keringat. Dikerahkan segenap potensi yang telah dititipkan ALLAH Azza wa Jalla, demi teraihnya suatu prestasi tertinggi, suatu karya terbaik. Dengan demikian, jadilah ia muslim yang unggul, prestatif, dan patut dibanggakan.

Selain itu, hati pun seratus persen digunakan berikhtiar dengan sekuat tenaga untuk ber-taqarrub dan mengejar pertolongan ALLAH, sehingga menjadi hamba yang ridha dan diridhai-Nya. Jadilah ia ahli ibadah yang unggul dan prestatif, kekasih ALLAH Azza wa Jalla, yang akan dikuatkan-Nya manakala ia lemah, yang akan dicukupkan-Nya ketika ia dalam kekurangan, yang akan dilapangkan-Nya bila ia dalam kesempitan, yang akan ditenteramkan-Nya tatkala ia dilanda gelisah, serta akan ditolong dan dibela-Nya sekiranya ia dianiaya dan disakiti.

Bagi hamba ALLAH yang unggul dalam ibadah kepada-Nya, maka baginya ALLAH itu dekat, "...fa innii qariib. Ujiibu da'wataddaa'i idzaa da'aan" [Q.S. AI-Baqarah (2): 186]. Aku adalah dekat. Aku mengabulkan orang yang berdo'a apabila ia mendo'a kepada-Ku! Bahkan, baginya ALLAH itu teramat dekat. "...dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." [Q.S. Qaf (50): 16]

Gambaran seorang muslim yang unggul dan prestatif memang ibarat rahib dalam kualitas ibadahnya dan laksana singa dalam kualitas semangat jihadnya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana caranya untuk menjadi seorang pribadi yang unggul? Salah satu kuncinya yang utama adalah kemampuan menggenggam waktu. Secara syariat, siang dan malam itu terdiri atas 24 jam. Seberapa besar seorang muslim mampu menggunakan waktu yang telah disediakanALLAH tersebut? Dengan kata lain, seberapa mampu seorang muslim mampu melakukan percepatan diri?

Kita ibaratkan dalam sebuah lomba balap sepeda. Ketika pistol diletuskan, tampaknya orang yang menjadi juara dalam balap sepeda tersebut adalah orang yang dalam detik yang sama bisa mengayuh sepedanya lebih kuat dan lebih cepat daripada yang dilakukan oleh orang lain, sehingga dia akan melesat mendahului pembalap yang lain karena energi yang dipergunakan dan ketepatan gerakannya lebih baik daripada detik yang sama yang dilakukan orang lain.

Artinya, keunggulan itu sangat dekat dengan orang yang paling efektif dalam memanfaatkan waktunya. Islam adalah agama yang paling dominan mengingatkan kita kepada waktu. ALLAH sendiri berkali-kali bersumpah dalam AI-Quran berkaitan dengan waktu. "Wal 'ashri (Demi waktu)," "Wadh dhuha (Demi waktu dhuha)." "Wal lail (Demi waktu malam)." "Wan nahar (Demi waktu siang)."

ALLAH pun telah mendisiplinkan kita agar ingat terhadap waktu minimal lima kali dalam sehari semalam: Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, 'Isya. Belum lagi tahajjud pada sepertiga akhir malam dan shalat Dhuha ketika matahari terbit sepenggalah. ALLAH mengingatkan kita untuk selalu terkontrol dengan waktu yang ada.

Oleh sebab itu, tampaknya tidaklah perlu bercita-cita yang hebat bagi orang-orang yang menganggap remeh waktu karena kunci keunggulan seseorang justeru terletak pada bagaimana dia mampu memanfaatkan waktu secara lebih baik daripada yang dimanfaatkan oleh orang lain.

Dua puluh empat jam adalah waktu sehari semalam yang sama diberikan kepada setiap orang. Ada yang bisa mengurus dunia. Ada yang mampu mengurus perusahaan raksasa. Ada yang bisa mengurus berjuta-juta manusia. Akan tetapi, ada juga orang yang selama dua puluh empat jam tersebut mengurus diri sendiri saja tidak sanggup. Padahal, jatah waktu yang dimilikinya sarna.

Jangan salahkan siapa pun kalau kita tidak merasakan gemilangnya hidup ini. Hal pertama yang harus kita curigai adalah bagaimana komitmen kita terhadap waktu yang kita jalani ini. Hendaknya selalu melakukan evaluasi diri. Kalau kita termasuk orang yang sangat menganggap remeh atas berlalunya waktu, tidak merasa kecewa manakala pertambahan waktu tidak menjadi saat bagi peningkatan kemampuan diri, maka berarti kita memang akan sulit menjadi unggul dalam hidup ini.

Kita berpacu dengan waktu. Satu desah nafas adalah satu langkah menuju maut. Rugi besar kalau kita banyak keinginan, banyak angan-angan, banyak harapan, tetapi tidak meningkatkan kemampuan. Padahal setiap detik, menit, dan jam adalah peluang bagi peningkatan kemampuan: kemampuan keilmuan, kemampuan diri, kemampuan kelapangan dada kemampuan ibadah. Barangsiapa yang dalam setiap waktu yang dilaluinya selalu tamak dengan upaya meningkatkan kemampuan diri, maka tidak usah heran kalau ALLAH akan memberikan yang terbaik bagi diri kita. Insya ALLAH! ALLAH-lah Pemilik segala-galanya.

Akan tetapi, kalau di dalam diri ini tidak ada peningkatan apa pun; ibadah tidak semakin khusyuk dan ikhlas, hati tidak semakin bersih, ilmu tidak semakin tinggi, kekuatan pun tidak bertambah, maka yang tinggal hanyalah angan-angan belaka. Tidak lebih dari itu. Karena, sebetulnya yang terlebih penting bukanlah hanya keinginan, melainkan kemampuan -- dan itulah yang menjadi jawaban terbaik dalam mengarungi kehidupan ini.

Waspadalah terhadap waktu. Setiap waktu yang kita lalui harus kita perhitungkan dengan secermat-cermatnya. Harus membuahkan peningkatan. Kita harus berbuat lebih baik daripada yang dilakukan oleh orang lain. Hendaknya kita tidak sekadar bekerja keras saja, tetapi yang jauh lebih baik adalah bahwa kita harus bekerja keras dan efektif!

Banyak orang yang sibuk bekerja tetapi juga sibuk tertinggal, sibuk lupa, serta sibuk mencari sesuatu yang seharusnya tidak dia cari karena semuanya harus sudah siap. Pendek kata, banyak orang yang tampak sibuk, tetapi ternyata tidak efektif. Bukanlah hal seperti ini yang diharapkan.

Ada orang yang duduk di depan meja dengan maksud untuk belajar. Belum beberapa detik saja dia duduk, sudah disibukkan dengan mencari ballpoint, sibuk mencari buku yang lupa meletakkannya, sibuk menjerang air untuk ngopi, sibuk melihat foto si dia yang dipajang di sudut meja. Memang dia duduk selama dua jam menghadapi meja, tetapi tidak menghasilkan apa pun. Mengapa demikian? Karena, dia tidak efektif.

Untuk menjadi seorang yang efektif dalam mengatur waktu, kita harus adil dalam membaginya. Ada hak belajar, hak membantu orang tua, hak ibadah, hak peningkatan kemampuan diri, hak evaluasi, hak istirahat, hak rekreasi; semua mesti dibagi dengan adil. Sibuk dan hebatnya belajar, misalnya, tetapi tanpa dibarengi dengan istirahat bahkan tanpa diiringi dengan mantapnya ibadah kepada ALLAH, itu hanya menunggu waktu yang suatu saat akan menjadi bumerang.

"Fa idzaa faraghta fanshab. Wa ilaa rabbika farghab." [Q.S. Alam Nasyrah (94):7-8]. Kunci efektivitas adalah manakala selesai menuntaskan suatu urusan, segera bersiaplah untuk mengerjakan urusan lain. Lebih dari semua itu adalah bagaimana menjadikan segalanya sebagai ladang amal dalam rangka ibadah kepada ALLAH Azza wa Jalla. Karena, bagaimanapun pada akhirnya "kepada Tuhanmulah kamu akan kembali"
Allaahu Akbar!


Menggapai Mahligai Cinta Melalui Pernikahan Barokah


Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah, Berbicara tentang pernikahan banyak yang menyesal. Menyesal kalau tahu begini nikmat kenapa tidak dari dulu. Menyesal ternyata banyak deritanya.
Menikah itu tidak mudah, yang mudah itu ijab kabulnya. Rukun nikah yang lima harus dihapal dan wajib lengkap kesemuanya. Begitu pula dengan syarat wajib nikah pada pria yang harus diperhatikan. Bagaimana jika kita belum punya biaya? Harus diyakini bahwa tiap orang itu sudah ada rezekinya. Menikah itu menggabungkan dua rezeki, rezeki wanita dan laki-laki bertemu, masalahnya adalah apakah rezeki itu diambil dengan cara yang barokah atau tidak.
Allah tidak menciptakan manusia dengan rasa lapar tanpa diberi makanan. Allah menghidupkan manusia untuk beribadah yang tentu saja memerlukan tenaga, mustahil Allah tidak memberi rezeki kepada kita. Biaya pernikahan bukanlah perkara mahal, yang penting ada. Maka kalau sudah darurat bahkan mengutang untuk menikah diperbolehkan daripada mendekati zina.
Kalau  sudah menikah setelah ijab kabul, jangan jadi riya dengan mengadakan resepsi yang mewah. Hal ini tidak akan menjadi barokah. Misalnya dalam mengundang, hanya menyertakan orang kaya saja, orang miskin tidak diundang. Bahkan Rasulullah melarang mengundang dengan membeda-bedakan status. Dalam mengadakan resepsi jangan sampai mengharapkan balasan income yang didapat.
Masalah mas kawin yang paling bagus adalah emas dan uang mahar yang paling bagus adalah uang. Berilah wanita sebanyak yang kita mampu, jangan hanya berkutat dengan seperangkat alat sholat saja. Rasulullah lebih  mengutamakan emas dan uang dan inilah hak wanita.

Awal nikah jangan membayangkan punya rumah yang bagus. Maka perkataan terbaik suami kepada istrinya adalah menasehati istri agar dekat dengan Allah. Jika istri dekat dengan Allah maka ia akan dijamin oleh Allah mudah-mudahan lewat kita.
Tiga rumus yang harus selalu diingat terdapat dalam surah Al-Asyr. Setiap bertambah hari, bertambah umur, kita itu merugi kecuali tiga golongan kelompok yang beruntung. Golongan pertama adalah orang yang selalu berpikir keras bagaimana supaya keyakinan dia kepada Allah meningkat. Sebab semua kebahagiaan dan kemuliaan itu berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kepada Allah. Tidak ada orang ikhlas kecuali yakin kepada Allah. Tidak ada sabar kecuali kenal kepada Allah. Tidak ada orang yang zuhud kepada dunia kecuali orang yang tahu kekayaan Allah. Tidak ada orang yang tawadhu kecuali orang yang tahu kehebatan Allah. Makin akrab dan kenal dengan Allah semua dipandang kecil.

Setiap hari dalam hidup kita seharusnya dipikirkan bagaimana kita dekat dengan Allah.  Kalau Allah sudah mencintai mahluk segala urusan akan beres. Salah satu bukti seperseratus sifat pemurah Allah yang disebarkan kepada seluruh mahlukNya bisa dilihat sikap seorang ibu yang melahirkan seorang anak. Kesakitan waktu melahirkan, hamil sembilan bulan tanpa mengeluh yang belum tentu anak tersebut akan membalas budinya. Tidak tidur ketika anaknya sakit, mengurus  anak dari mulai TK sampai SMA. Memikirkan biaya kuliah. Mulai nikah dibiayai sampai punya anak bahkan juga diterima tinggal di rumah sang ibu. Tetapi kerelaannya masih saja terpancar. Itulah seperseratus sifat Allah.

Selalu komitmen mau kemana rumah tangga ini akan dibawa. Mungkin sang ayah atau ibu yang meninggal lebih dulu yang penting keluarga ini akan kumpul di surga. Apapun yang ada dirumah harus menjadi jalan mendekat kepada Allah. Beli barang apapun harus barang yang disukai Allah. Supaya rumah kita menjadi rumah yang disukai Allah. Boleh punya barang yang bagus tanpa diwarnai dengan takabur. Bukan perkara mahal atau murah, bagus atau tidak tetapi apakah bisa dipertanggungjawabkan disisi Allah atau tidak. Bahkan dalam mendengar lagu yang disukai Allah siapa tahu kita dipanggil Allah ketika mendengar lagu. Rumah kita harus Allah oriented. Kaligrafi dengan tulisan Allah. Kita senang melihat rumah mewah dan islami. Jadikan semua harta jadi dakwah mulai mobil  sampai rumah. Tiap punya uang beli buku, buat perpustakaan di rumah untuk tamu yang berkunjung membaca dan menambah ilmu. Jangan memberi hadiah lebaran hanya makanan, coba memberi buku, kaset dan bacaan lain yang berguna.

Jangan rewel memikirkan kebutuhan kita, itu semua tidak akan kemana-mana. Allah tahu kebutuhan kita daripada kita sendiri. Allah menciptakan usus dengan disain untuk lapar tidak mungkin tidak diberi makan. Allah menyuruh kita menutup aurat, tidak mungkin tidak diberi pakaian. Apa yang kita pikirkan Allah sudah mengetahui apa yang kita pikirkan. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana dekat dengan Allah, selanjutnya Allah yang akan mengurusnya. Kita cenderung untuk memikirkan yang tidak disuruh oleh  Allah bukan yang disuruhNya.

Kalau hubungan kita dengan Allah bagus semua akan beres. Barang siapa yang terus dekat dengan Allah, akan diberi jalan keluar setiap urusannya. Dan dijamin dengan rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga. Dan barang siapa hatinya yakin Allah yang punya segalanya, akan dicukupkan segala kebutuhannya. Jadi bukan dunia ini yang menjadi masalah tetapi hubungan kita dengan Allah-lah masalahnya.

Golongan kedua adalah rumah tangga yang akan rugi adalah rumah tangga yang kurang amal. Jangan capai memikirkan apa yang kita inginkan, tapi pikirkan apa yang bisa kita lakukan. Pikiran kita harusnya hanya memikirkan dua hal yakni bagaimana hati ini bisa bersih, tulus, dan bening sehingga melakukan apapun ikhlas dan yang kedua teruslah tingkatkan kekuatan untuk terus berbuat. Pikiran itu bukan mengacu pada mencari uang tetapi bagaimana menyedekahkan uang tersebut, menolong, dan membahagiakan orang dengan senyum. Sehingga dimanapun kita berada bagai pancaran matahari yang menerangi yang gelap, menuai bibit, menyemarakkan suasana. Sesudah itu serahkan kepada Allah. Setiap kita memungut sampah demi Allah itu akan dibalas oleh Allah.

Rekan-rekan Sekalian, Mari kita ubah paradigmanya. Rumah tangga yang paling beruntung adalah rumah tangga yang paling banyak produktifitas kebaikannya. Uang yang paling barokah adalah uang yang paling tinggi produktifitasnya, bukan senang melihat uang kita tercatat di deposito atau tabungan. Uang sebaiknya ditaruh di BMT. Yang terjadi adalah multiefek bagi pihak lain, hal ini menjadikan uang kita barokah. Daripada uang kita disimpan di Bank kemudian Banknya bangkrut, disimpan di kolong kasur takut dirampok.

Kaya boleh asal produktif. Boleh mempunyai rumah banyak asal diniatkan agar barokah demi Allah itu akan beruntung. Beli tanah seluas-luasnya. Sebagian diwakafkan, kemudian dibangun masjid. Pahala akan mengalir untuk kita sampai Yaumil Hisab. Makanya terus cari uang bukan untuk memperkaya diri tapi mendistribusikan untuk ummat. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah. Jadi pikiran kita bukan akan mendapat apa kita? tapi akan berbuat apa kita?. Apakah hari ini saya sudah menolong orang, sudahkah senyum, berapa orang yang saya sapa, berapa orang yang saya bantu?

Makin banyak menuntut makin capai. Makin kuat kita menuntut kalau Allah tidak mengijinkan maka tidak akan terwujud. Kita minta dihormati, malah Allah akan  memperlihatkan kekurangan kita. Kita malah akan dicaci, hasilnya sakit hati. Orang yang beruntung, setiap waktu pikirannya produktif mengenai kebaikan. Selagi hidup lakukanlah, sesudah mati kita tidak akan bisa. Kalau sudah berbuat nanti Allah yang akan memberi, itulah namanya rezeki. Orang yang beruntung adalah orang yang paling produktif kebaikannya.

Yang ketiga rumah tangga atau manusia yang beruntung itu adalah pikirannya setiap hari memikirkan bagaimana ia bisa menjadi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran dan ia pecinta nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Setiap hari carilah input nasihat kemana-mana. Kata-kata yang paling bagus yang kita katakan adalah meminta saran dan nasihat. Ayah meminta nasihat kepada anak, niscaya tidak akan kehilangan wibawa. Begitu pula seorang atasan di kantor.

Kita harus berusaha setiap hari mendapatkan informasi dan koreksi dari pihak luar, kita tidak akan bisa menjadi penasihat yang baik sebelum ia menjadi orang yang bisa dinasihati. Tidak akan bisa kita memberi nasihat jika kita tidak bisa menerima nasihat. Jangan pernah membantah, makin sibuk membela diri makin jelas kelemahan kita. Alasan adalah kelemahan kita. Cara menjawab kritikan adalah evaluasi dan perbaikan diri. Mungkin membutuhkan waktu sebulan bahkan setahun. Nikmatilah nasihat sebagai rezeki dan bukti kesuksesan hidup. Sayang hidup hanya sekali dan sebentar hanya untuk menipu diri. Merasa keren di dunia tetapi hina dihadapan Allah. Merasa pinter padahal bodoh dalam andangan Allah.

Mudah-mudahan kita bisa menerapkan tiga hal diatas. Setiap waktu berlalu tambahlah ilmu agar iman meningkat, setiap waktu isi dengan menambah amal. Alhamdulillah.


Ma'rifatullah sebagai pondasi kehidupan


Secara fitrah, manusia memiliki kebutuhan standar. Dalam salah satu bukunya, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mencintai dirinya, mencintai kesempurnaannya, serta mencintai eksistensinya. Dan sebaliknya, manusia cenderung memberi hala-hal yang dapat menghancurkan, meniadakan, mengurangi atau menghancurkan kesempurnaan itu.

Orang besar tekenal banyak dipuji-puji, memiliki pengaruh dan kekayaan yang melimpah, pengikutnya beribu-ribu, akan takut setengah mati jika takdir mendadak merubahnya menjadi miskin, lemah, bangkrut, terasing atau ditinggalkan manusia. Begitulah tabiat manusia. Padahal, kecintaan kita kepada selain Allah sampai begitu banyak, maka cinta itu pasti akan musnah.

Seharusnya kebutuhan kita akan kebahagiaan duniawi, membuat kita berpikir bahwa Alalahlah satu-satunya yang memiliki semua itu. Adapun kekhawatiran tentang standar kebutuhan kita, mestinya membuat kita berlindung dan berharap kepada Allah dengan mengamalkan apa-apa yang disukainya. Jadi, kebutuhan pada diri kita itu seharusnya menjadi jalan supaya kita mencintai Allah.

Seorang muslim selayaknya memahami, bahwa keindahan cinta yang paling hakiki adalah kita mencintai Allah SWT. Dan pondasi utama yang harus dibangun oleh seorang muslim untuk menggapai keindahan cinta tersebut adalah dengan mengenal Allah (ma'rifatullah). Bagi seorang muslim ma'rifatullah adalah bekal untuk meraih prestasi hidup setinggi-tingginya. Sebaliknya, tanpa ma'rifatullah seorang muslim memiliki keyakinan dan keteguhan hidup.

Ma'rifatullah adalah pengarah yang akan meluruskan orientasi hidup seorang muslim. Dari sinilah dia menyadari bahwa hidupnya bukan untuk siapa pun kecuali hanya untuk Allah SWT. Jika seorang hidup dengan menegakkan prinsip-prinsip ma'rifatullah ini, maka insya Allah, alam semesta ini akan Allah tundukkan untuk melayaninya. Dengan fasilitas itulah, dia kemudian akan memperoleh kemudahan dalam setiap urusan yang dihadapinya.

Maka berbahagialah orang yang senantiasa berusaha mengenal Allah, sehingga kedekatannya dengan Allah senantiasa dipisah oleh tabir yang semakin tipis. Bagi orang yang dekat dengan Allah, dia akan dianugrahi ru'yah shadiqah (penglihatan hati yang benar).

Di sisi lain, ma'rifatullah juga menjadi sangat penting dalan merevolusi pribadi seseorang untuk berubah ke arah kebaikan. Dengan kata lain, perubahan yang dahsyat dan hakiki itu bisa terjadi ketika seseorang mempunyai keyakinan pribadi yang sangat kuat kepada sang Khalik.

Dengan kekuatan iman, seorang pengecut seketika berubah menjadi seorang pemberani. Seorang pemalas tiba-tiba berubah menjadi bersemangat. Sehingga siapa pun yang menginginkan perubahan positif yang cepat dalam dirinya kuncinya adalah membangun kayakinan yang kuat kepada Allah SWT. Banyak contoh berbicara tentang betapa kuatnya peran keyakinan dalam merubah pribadi seseorang.

Umar bin Khatab ra. yang sebelumnya begitu pemarah dan berwatak keras, bahkan anaknya sendiri dikubur hidup-hidup. Namun berkat tumbuhnya tauhid dalam dirinya, beliau berubah menjadi begitu bermurah hati dan penyantun. Bukan hanya individu, kota Makkah yang sebelumnya tidak dikenal, hanya sebuah dusun kecil yang penuh keterbatasan, berkat da'wah dan kekuatan iman yang disemai melalui dakwah Rasulullah SAW, akhirnya berubah menjadi bangsa yang besar dan sangat disegani.

Kisah lain dapat disebut, yaitu kisah seorang shahabiyah yang bernama Khansa. Wanita mukminah yang hidup di zaman sahabat ini ketika kerabatnya wafat, emosi kesedihannya begitu luar biasa. Dia menangis begitu pilu, meratap, merobek-robek baju, memukul dada. Tapi sesudah mendapat hidayah, emosinya dapat terkontrol.

Bahkan dalam sebuah pertempuran, ia berseru pada keempat anak laki-lakinya. "Hai anak-anakku, ini kesempatan besar. Kalau engkau mengalahkan mereka, engkau dapat pahala di sisi Allah. Kalau engkau menjadi syuhada, engkau mendapat kemuliaan di sisi Allah. Bertempurlah dengan semangat membara!"

Lalu anak-anaknya bertempur luar biasa, hingga satu persatu gugur menjadi syuhada. Namun kala itu bukan ratapan yang ia berikan, malah ungkapan syukur. Padahal dulu, hanya saudaranya saja yang meninggal dunia ratapannya sangat luar biasa, sampai hendak bunuh diri karena putus asa. Namun di kemudian hari, dia malah mengantar syahid anak-anaknya dengan penuh ketabahan dan keikhlasan.

Oleh karenanya, siapa pun yang tidak mempunyai pondasi ma'rifatullah dalam dirinya, maka ia akan sulit untk memperoleh ketenangan, kedamaian, kabahagiaan, dan kesuksesan hakiki. Jika kita makin mengenal siapa Allah, maka akan terasa semakin kecil nilai makhluk. Ketika kita semakin mengerti penghargaan dari Allah maka kian tidak berarti penghargaan yang kita terima dari makhluk.

Di saat kita merasakan betapa sempurnanya balasan dari Allah, maka betapapun besarnya balasan dari makhluk tidak akan sebanding harganya dengan balasan Allah. Makin detailnya penglihatan Allah, makin tidak penting pengawasan makhluk. Siapapun yang mengenal Allah tidak akan pernah kecewa dengan perbuatan Allah.

Hal-hal seperti itulah yang lambat laun akan membina kita menjadi pribadi-pribadi ihklas. Insan-insan yang hanya bergantung dan berharap kepada Allah SWT. Maka kekuatan untuk bisa maju, mulia, dan bermartabat itu hanya bisa dicapai dengan keyakinan kepada Allah SWT. Kekuatan keyakinan memang begitu dahsyat, sehingga atas izin Allah setiap kebaikan yang diingini oleh seorang muwahid (orang yang betauhid) akan dibayar oleh Allah di depan matanya.

Maka semua puncak ketenangan, kebahagiaan, perubahan, kedamaian, serta kesuksesan itu berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kepada Allah Yang Maha Agung. Oleh karena itu berapapun biaya, tenaga, waktu dan apapun yang kita korbankan untuk mendekatkan diri kepada Allah seharusnya tidak perlu dirisaukan, sebab pengornbanan itu tidak sebanding dengan maslahat yang akan kita terima.

Dalam ilmu mengenal Allah SWT, ada rambu-rambu supaya keyakinan itu berada pada rel yang tepat, sehingga tidak menjadi alasan untuk kelemahan dan kemaksiatan. Jangan sampai keyakinan ini menjadi tempat menyembunyikan diri kita dari kemalasan dan kegigihan berikhtiar.

Jangan sampai keyakinan bahwa Allah Maha Kaya membuat kita tidak gigih menjemput rizki kita. Keyakinan Allah Maha Pengampun malah membuat kita mengenteng-enteng perbuatan dosa. Keyakinan bahwa Allah Maha Memberi, jangan sampai membuat kita lalai dalam mencari nafkah.

Selanjutnya kita harus lebih profesional, karena ketika mengingat Allah kita terkadang cenderung ingat kepada balasanNya, ingat pada keras siksaNya. Jika semua itu memang mampu membuat kita takut dan menghindari perbuatan dosa, tentu sangatlah bagus. Namun, kita juga harus ingat bahwa ampunan Allah itu ternyata demikian dahsyat, Allah mendahulukan kasih sayangNya dibanding kemarahanNya.

Mudah-mudahan uraian ringkas ini dapat memacu kita untuk semakin mengenal Allah Yang Maha Dekat, Yang Maha Menyayangi. Sehingga kita semakin merasakan kekuatan perubahan, dahsyatnya revolusi, baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat dengan tertancapnya pondasi ma'rifatullah, pondasi kekuatan keyakinan pada Allah SWT.


Lidah Adalah Amanah


Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-orang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. "Wahai orang-orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkatalah dengan kata-kata yang benar." (QS Al-Ahzab:70). Sementara itu, Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam". (HR Bukhari-Muslim).

Rasulullah adalah figur teladan yang sangat menjaga kata-katanya. Beliau berbicara, beruap, berdialog, juga berkhutbah di hadapan jamaah dengan akhlak. Demikian tinggi akhlak beliau hingga disebutkan bahwa kualitas akhlak beliau adalah Al-Quran. Mulut manusia itu seperti moncong teko. Moncong teko hanya mengeluarkan isi teko. Kalau ingin tahu isi teko, cukup lihat dari apa yang keluar dari moncong itu. Begitu pun jika kita ingin mengetahui kualitas diri seseorang, lihat saja dari apa yang sering dikeluarkan oleh mulutnya.

Nabi Muhammad saw termasuk orang yang sangat jarang berbicara. Namun, sekalinya berbicara, isi pembicaraannya bisa dipastikan kebenarannya. Bobot ucapan Rasulullah sangat tinggi, seolah tiap kata yang terucap adalah butir-butir mutiara yang cemerlang. Indah, berharga, bermutu, dan monumental. Ucapan Rasulullah saw menembus hati, menggugah kesadaran, menghujam dalam jiwa, dan mengubah perilaku orang (atas izin Allah). Bukan saja karena lisan Rasulullah dibimbing Allah dan posisinya sebagai penyampai wahyu, di mana ucapan-ucapan darinya menjadi dasar hukum. Lebih dari itu, Rasulullah sejak kecil sudah dikenal sebagai Al-Amin, tidak pernah berkata dusta walau sekali saja. Investasi moral ini tentu sangat mempengaruhi kualitas ucapannya.

Dalam sebuah kitab ada keterangan menarik. Disebutkan ada empat jenis manusia diukur dari kualitas pembicaraannya.

Pertama, orang yang berkualitas tinggi. Kalau dia berbicara, isinya sarat dengan hikmah, ide, gagasan, solusi, ilmu, dzikir, dan sebagainya. Orang seperti ini pembicaraannya bermanfaat bagi dirinya sendiri, juga bagi orang lain yang mendengarkan. Jika dia diajak berbicara sekalipun ngobrol, ujungnya adalah manfaat.

Ketika disodorkan padanya keluhan tentang krisis, dengan tangkas dia menjawab, "Krisis adalah peluang bagi kita untuk mengevaluasi kekurangan yang ada. Dengan krisis, siapa tahu kita akan lebih kreatif? Kita bisa mencari celah-celah peluang inovasi. Pokoknya jangan putus asa, semangat terus!" Siapa saja yang biasa berbicara tentang solusi, gagasan, hikmah, dan hal-hal serupa itu, insya Allah dia adalah manusia yang berkualitas.

Kedua, orang yang biasa-biasa saja. Ciri orang seperti ini adalah selalu sibuk menceritakan peristiwa. Melihat ada kereta api terguling, dia berkomentar ribut sekali. Seolah dirinya yang kelindes kereta. Ketika bertemu seorang artis, terus dicerita-ceritakan tiada henti. Pokoknya ada apa saja dikomentari. Dia seperti juru bicara yang wajib berkomentar kapan pun ada peristiwa. Tidak peduli peristiwa layak dia komentari atau tidak.

Ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang: "Pokoknya bunyi!" Tidak ada masalah dengan peristiwa. Jika melalui itu semua kita bisa memungut hikmah yang sebaik-baiknya, insya Allah peristiwa bermanfaat. Namun, jika dari peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang dituju kecuali menunggu sampai mulut lelah sendiri, ini tentu kesia-siaan.

Ketiga, orang rendahan. Cirinya kalau berbicara isinya hanya mengeluh, mencela, atau menghina. Apa saja bisa jadi bahan keluhan. "Aduuuh ini pinggang, kenapa jadi sakit begini. Hari ini kayak-nya banyak masalah, nih!" Ketika kepadanya disodorkan makanan, jurus keluhannya segera berhamburan. "Makanan kok dingin begini? Coba kalau ada sambel, tentu lebih nikmat. Aduuuh, kerupuk ini, kenapa kecil-kecil begini?" Terus saja makanan dikeluhkan, walau kenyataannya semua akhirnya habis juga.

Mengeluh dan mencela, itu hari-hari orang rendahan. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Ketika turun hujan, hujan segera dicaci. "Ohh, hujan melulu, di mana-mana becek. Jemuran nggak kering-kering." Ketika di jalanan macet, mengeluh. Ketika ada lampu merah, mengeluh. Ketika ada polisi, mengeluh. Ketika ada orang meminta-minta, mengeluh. Dan seterusnya. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Alangkah menderita hidup orang yang dipenjara oleh keluh-kesah. Dia tidak bisa membedakan mana nikmat dan mana musibah. Seluruh lembar hidupnya dimaknai sebagai kesusahan, sehingga layak dikeluhkan.

Keempat, orang yang dangkal. Adalah mereka yang semua pembicaraannya tidak keluar dari menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasanya, kebaikan-kebaikannya. Padahal hidup ini adalah pengabdian untuk Allah. Mengapa harus kita membanggakan apa yang Allah titipkan pada kita?

Ada orang pakai cincin segera berkomentar, "Oh, itu sih mirip cincin saya." Ada orang beli mobil baru, "Nah, ini seperti yang di garasi saya itu." Ada kucing berbulu tebal melompat, "Kucing ini gondrong. Oh yaa, kucing gondrong itu mirip singa. Hai, tau nggak? Saya sudah pernah ke Singapura, lho. Hebat sekali kota Singapura. Hanya orang yang hebat saja bisa pergi ke sana." Orang-orang dangkal ini akan terus berbicara tiada henti. Tak lupa dia selalu menyelipkan kata-kata kesombongan dan membanggakan diri.

Orang-orang dangkal tiada bosan mengekspose diri, menyebut jasa, kebaikan, dan prestasinya. Dia selalu ingin tampak menonjol dan mendominasi. Jika ada orang lain yang secara wajar tampak lebih baik, hatinya teriris-iris, tidak rela, dan sangat berharap orang itu akan segera celaka. Inilah ilmu gelas kosong. Gelas kosong, maunya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri, inginnya minta dihargai terus. Kita harus berhati-hati dalam berbicara. Harus kita sadari bahwa berbicara itu dibatasi oleh etika-etika. Hendaklah kita ada di atas rel yang benar. Jangan sampai kita jatuh dalam apa-apa yang Allah larang.

Dalam berbicara kita jangan bergunjing (ghibah). Bergunjing adalah perbuatan yang ringan, bahkan bagi sebagian orang mungkin dianggap mengasyikkan. Namun, jika dilakukan dengan sengaja, apalagi dengan kesadaran penuh dan tekad menggebu, bergunjing bisa menjadi dosa besar.

"Dan janganlah kalian ber-ghibah (bergunjing) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Apakah suka salah-seorang dari kalian makan daging bangkai saudaranya? Maka, kalian tentu akan sangat jijik kepadanya. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat." (QS Al-Hujurat:12).

Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa memaksa diri kita untuk melakukan yang terbaik menyikapi sikap orang lain. Banyak bicara tidak selalu buruk, yang buruk adalah banyak berbicara kebatilan. Boleh-boleh saja kita produktif berbicara, tapi harus proporsional. Jika kita berbicara hal yang benar dan memang harus banyak, tentu kita lakukan hal itu. Pembicaraan seringkali bergeser dari rel kebaikan ketika kita tidak proporsional.

Semua orang harus menjaga lidahnya. Tidak peduli apakah itu orang-orang yang dianggap ahli agama. Orang-orang yang pandai membaca Al-Quran atau hadis, tidak otomatis pembicaraannya telah terjaga. Di sini tetap dibutuhkan proses belajar, berlatih, dan terus berjuang agar mutu kata-kata kita semakin meningkat.

Alangkah ironi jika orang-orang yang ahli agama, namun tidak menjaga lisan. Dia banyak menasihati umat dengan perilaku-perilaku yang baik, tapi saat yang sama dia tidak melakukan hal itu. Jika orang-orang preman berkata kasar, jorok, dan tak mengenai tata krama, orang masih maklum. Namun, jika orang-orang alim yang melakukannya, tentu ini adalah bencana serius.

Satu langkah konkret untuk memulai upaya menjaga lisan adalah dengan mulai mengurangi jumlah kata-kata. Makin sedikit bicara, makin tipis peluang kesalahan. Sebaliknya makin banyak bicara, peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika lidah kita telah meluncur tanpa kendali, kehormatan kita seketika akan runtuh. Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata baik. Jika tidak, cukup diam saja!

Saudaraku, sadarilah bahwa lidah ini adalah amanah. Tiap-tiap kata yang terucap darinya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadikan ucapan-ucapan kita adalah modal untuk mengundang keridhaan Allah. Jangan jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya murka dan kebencian-Nya.

Semoga Allah SWT membimbing lisan kita untuk berucap mengikuti keteladanan Rasulullah saw. Ucapan itu keluar dari lisan bagai untaian mutiara yang sarat dengan kebenaran, berharga, bermutu, dan membawa maslahat bagi siapa pun yang mendengarkannya. Amin.
Wallahu a'lam bishshawab.


Kita Membutuhkan Sosok Umair Bin Saad


Kian banyak kita mendapati kisah teladan para sahabat, kian rindulah kita pada kehadiran sosok pejuang Islam dan pemimpin yang ikhlas, amanah, dan bersahaja. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab, penduduk Hims sangat kritis terhadap para pembesar mereka sehingga sering mengadu kepada Khalifah Umar.
Setiap pembesar yang baru datang memerintah ada saja celanya bagi mereka. Dicatatnya segala kesalahan pembesar itu lalu dilaporkannya kepada khalifah dan minta diganti dengan yang lebih baik. Penduduk Hims tidak ingin diperintah oleh 'politisi bermasalah'. Karena itu Khalifah Umar mencari seorang yang tidak bercacat dan namanya belum pernah rusak untuk menjadi gubernur di sana.

Lalu beliau menyebarkan pembantu-pembantunya untuk mencari orang yang paling tepat. Akhirnya, tidak diperolehnya orang yang lebih baik selain Umair bin Saad. Ketika itu Umair sedang bertugas memimpin pasukan perang kaum Muslimin di wilayah Syam. Dalam tugas itu dia berhasil memimpin pasukannya untuk membebaskan beberapa kota, menundukkan beberapa kabilah, dan membangun masjid di setiap negeri yang dilaluinya. Pada saat seperti itulah Umair dipanggil pulang ke Madinah untuk memangku jabatan Gubernur Hims.

Umair menerima tugas barunya dengan hati enggan karena baginya tidak ada yang lebih utama selain perang fi sabilillah. Setibanya di Hims ia mengajak penduduk berkumpul di masjid untuk shalat berjamaah. Selesai shalat dia menyampaikan pidato. ''Hai manusia, sesungguhnya Islam adalah benteng pertahanan yang kokoh dan pintu yang kuat. Benteng Islam itu ialah keadilan dan pintunya ialah kebenaran. Apabila benteng itu ambruk dan pintunya roboh, pertahanan agama akan sirna.

Islam akan senantiasa kuat selama kekuasaan tegak dengan kokoh. Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cemeti dan tidak pula dengan pedang, melainkan dengan menegakkan keadilan dan melaksanakan yang hak.'' Umair bin Saad bertugas sebagai Gubernur Hims hanya setahun. Selama itu dia tidak menulis surat sepucuk pun kepada Khalifah Umar di Madinah. Bahkan, ia pun tidak menyetorkan pajak satu dinar atau satu dirham pun ke Baitul Mal di Madinah. Karena itu timbul kecurigaan di hati Khalifah Umar.

Dia sangat khawatir ada masalah dengan pemerintahan Umair. Lalu, ia memerintahkan sekretaris negara untuk menulis surat kepada Gubernur Umair. ''Katakan kepadanya, bila surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkanlah Hims dan segeralah menghadap Amirul Mukminin. Jangan lupa membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin.'' Selesai surat tersebut dibaca oleh Gubernur Umair, maka diambilnya kantong perbekalan dan diisinya tempat air untuk persediaan air wudhu dalam perjalanan. Lalu, dia berangkat meninggalkan Hims.

Dia pergi mengayun langkah menuju Madinah dengan berjalan kaki. Ketika hampir tiba di Madinah, keadaannya pucat (karena kurang makan dalam perjalanan), tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampak sangat letih karena perjalanan yang begitu jauh. Khalifah Umar yang terkejut melihat keadaan Umair dan mempertanyakan keadaannya. Jawab Umair, ''Tidak kurang suatu apa pun. Saya sehat, alhamdulillah, saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di kedua tanduknya.''
Khalifah Umar melanjutkan pertanyaannya, ''Dunia manakah yang Anda bawa?"  Umair menjawab, ''Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk wudhu, untuk membasahi kepala, dan untuk minum. Itulah seluruh dunia yang saya bawa. Yang lain tidak saya perlukan.'' Khalifah Umar tak menghentikan pertanyaannya. Gubernur Umair pun selalu memberi jawaban. ''Apakah Anda datang berjalan kaki?'' ''Betul, ya Amirul Mukminin'' ''Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh pemerintah?''

''Tidak, mereka tidak memberi saya dan saya tidak pula memintanya dari mereka.'' ''Mana setoran pajak yang Anda bawa untuk Baitul Mal?'' ''Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Mal'' ''Mengapa?'' ''Setibanya di Hims, saya kumpulkan penduduk yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan mengumpulkan pajak. Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya, saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus digunakan dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang berhak.''

Mendengar penjelasan demikian, Khalifah Umar lantas memerintahkan untuk memperpanjang masa jabatan Umair sebagai Gubernur Hims. Namun, Umair menolaknya. ''Maaf Khalifah, saya tidak menghendaki jabatan itu lagi. Mulai saat ini saya tidak hendak bekerja lagi untuk Anda atau untuk orang lain sesudah Anda, wahai Amirul Mukminin.'' Umair pun minta izin untuk pergi ke sebuah dusun di pinggiran kota Madinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya. Di sana ia hidup sangat sederhana dan bahagia hingga ajal menjemputnya.

Ketika Khalifah Umar mendengar kematian Umair, ia berduka sangat dalam. Ia berkata, ''Saya membutuhkan orang-orang seperti Umair bin Saad untuk membantu saya mengelola masyarakat kaum muslimin.'' Kisah perjalanan hidup para sahabat atau umat Islam generasi awal, selalu menarik untuk dikaji dan digali hikmahnya. Kita, umat Islam, sebenarnya tidak pernah mengalami krisis keteladanan. Perjalanan hidup para sahabat Nabi yang menjadi warga biasa ataupun penguasa senantiasa melahirkan hikmah yang patut dipetik.

Penggalan kisah Umair bin Saad di atas terasa aktual dan kontekstual bagi kehidupan umat Islam masa sekarang. Kian banyak kita mendapati kisah teladan para sahabat, kian rindulah kita pada kehadiran sosok-sosok pejuang Islam dan pemimpin yang ikhlas, amanah, dan bersahaja. Mestinya, kisah-kisah pejuang Islam seperti itulah yang dikabarkan kepada generasi Islam masa kini. Sehingga proses kaderisasi pemimpin yang ikhlas, amanah, dan bersahaja berjalan dengan baik dan kita tidak mengalami krisis keteladanan dan kepemimpinan seperti sekarang.

Seperti kata Khalifah Umar, kita membutuhkan sosok-sosok pemimpin dan pejuang seperti Umair untuk memimpin dan mengurus masalah umat Islam. Pengangkatan Umair sebagai Gubernur Hims juga tidak lepas dari sosok Umar bin Khattab yang ikhlas, amanah, dan bersahaja dalam memimpin umat Islam. Kita pun bisa meneladani penduduk Hims yang kritis dan korektif terhadap pemerintahnya, bukannya malah ikut menikmati kue kekuasaan dengan mendekati para pejabat yang tidak amanah dengan berbagai cara dan proposal jadi-jadian. Kita berharap sosok pemimpin umat Islam yang sedang dan akan menjadi pembesar, pejabat, atau penguasa, berlomba-lomba dalam kebajikan, untuk meneladani sikap amanah dan bersahaja seperti ditunjukkan Umair dan para sahabat Rasulullah lainnya.

Mereka tidak ambisius memegang jabatan, sesuai dengan perintah Nabi. Namun ketika amanah itu datang, mereka menjalankannya dengan baik, penuh keikhlasan, tidak korup dan otoriter, serta senantiasa mengedepankan semangat syuro dan melibatkan partisipasi rakyatnya dalam pengambilan kebijakan. Kini, adakah calon legislatif atau calon presiden yang berani dan tulus berjanji dalam kampanyenya, bahwa ia akan menjadi pejabat atau penguasa yang ikhlas, amanah, dan bersahaja seperti Umar dan Umair? Jika ada, kita berdosa jika tidak memilihnya. Wallahu a'lam.


Kewirausahaan


Hal yang sangat patut direnungkan oleh ummat Islam, dan ini menjadi kendala bagi kemajuan umat adalah faktor leadership (kepemimpinan) dan kemampuan manajemen. Dampaknya pun jelas , denga dua titik lemah ini potensi yang banyak tidak terbaca, tidak tergali secara maksimal , dan tidak terbaca, tidak tergali secara maksimal , dan tidak bisa dikembangkan menjadi sebuah sinergi yang memiliki dampak besar bagi kemajuan ummat.

Kelemahan leadership dan manajerial ini ternyata dapat kita telusuri dengan mengamati bagaimana pemahaman umat tentang sifat Rasulullah SAW.Diantara titik-titik yang kurang tersentuh secara maksimal adalah bagaimana umat Islam mempelajari masa muda Rasulullah sebelum menjadi Nabi.

Dari beberapa literatur yang didapat, betapa jiwa entrepreneurship Rasulullah di bidang wirausaha begitu mendominasi, sehingga beliau berkembang menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa entrepreneur , dan keterampilan manajemen yang baik untuk mengelola sebuah dakwah, sebuah sistem yang bertata nilai kemuliaan Al Islam.

Diantara hal yang terus menerus harus kita teladani dari Rasulullah dalam interaksi bisnisnya adalah beliau sangat menjaga nilai-nilai harga diri,kehormatan , dan kemuliaannya dalam proses interaksi bisnis. Bisnis bagi Rasulullah tidak sebatas pertukaran uang dan barang , tapi ada yang lebih tinggi dari semua itu yaitu menjaga kehormatan diri.

Sehingga keuntungan apapun dari setiap transaksi yang beliau dapatkan , maka kemuliaannya justru semakin menjulang tinggi . Semakin dihormati , semakin disegani dan ini menjadi aset tak ternilai harganya yang mendatangkan kepercayaan dari pemilik modal.

Semoga kita semua mampu merenungi kejujuran diri, amanah, dan kegigihan dalam menjaga kehormatan diri kita selaku ummat Islam.
Wallahu a’lam bishowab.


Ketika Kita Singgah Sejenak


Bayangkanlah bila suatu ketika ada seseorang yang menjanjikan hadiah berupa sebuah rumah mewah lengkap dengan isinya. Begitu indah dan sempurnanya rumah itu, sehingga baru membayangkannya saja Anda sudah merasakan suatu kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri. Rumah itu terletak di kota "A" dan anda diminta untuk pergi sendiri ke sana. Diberinya anda sejumlah ongkos untuk bekal selama perjalanan hingga sampai tujuan. Tetapi di tengah perjalanan nanti Anda diminta singgah terlebih dahulu disebuah kampung. Ya, sekedar singgah sejenak!

Sungguh termasuk orang yang malang apabila ketika sampai di kampung tersebut Anda malah terpana dan lalu menganggap kampung tersebut teramat indah. Melihat gubuk disangka istana. Melihat kolam kecil disangka danau. Bahkan melihat kue serabi anda sangka martabak spesial. Pendek kata, mata dan penilaian Anda menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang menerpa.

Saking merasa senangnya Anda dengan kampung itu, sampai sampai lupa dengan pesan semula bahwa anda hanya disuruh singgah sejenak saja. Anda tinggal berlama-lama di sana dan tentu saja ongkos pemberian yang cukup untuk sampai tujuan itu malah anda habiskan di kampung itu. Akibatnya, tidak usah heran ketika yang menyuruh dan memberi ongkos akan murka tatkala mengetahui Anda ternyata tidak pergi ke kota yang diminta.

Nah, ketahuilah bahwa kota "A" itu tiada lain adalah akhirat, sedangkan kampung yang anda hanya disuruh singgah sejenak itu tak lain pula adalah kampung dunia ini.

Salahkah apabila Dia Yang Mahabaik itu, yang telah menjajikan surga Jannatun Na'im - padahal apapun yang dijanjikanNya pasti ditepati dan tidak akan meleset sedikitpun - dan tak lupa pula memberi bekal perjalanan yang cukup berupa karunia nikmat rizki, tidak menyembunyikan "kekecewaannya" melihat tingkah laku kita yang tak pandai manjaga amanah, dengan berfirman, "Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai?" (Q.S. Ar Ruum 30: 7).

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui," demikian firmanNya pula. (Q.S. Al Ankabuut 29: 64)

Kebanyakan di antara kita ternyata memang gemar bertindak yang "mengecewakan" seperti itu. Kampung dunia ini sebenarnya tidak ada apa-apanya, namun sebagian besar orang ternyata terpedaya oleh keindahan fatamorgananya. Padahal, semua yang dititipkan ALLAH kepada kita, baik berupa otak, tenaga, harta, waktu, dan sebagainya, itu semua sebenarnya bukan untuk kampung dunia ini karena ia hanyalah tempat mampir atau singgah sejenak saja.

Dunia tak lebih sekedar tempat transit belaka kendatipun untuk ini ALLAH Azza wa Jalla pasti mencukupi kita dengan rizkinya. Dengan catatan, sepanjang "ongkos" tersebut tidak dhamburkan sia-sia. ALLAH memampirkan kita di dunia ini seraya tahu persis akan segala apa yang kita butuhkan, lebih tahu daripada apa yang sebenarnya kita perlukan, kalau ongkos yang ada itu kita jadikan betul-betul untuk bekal kepulangan nanti, maka subhanallah, kita akan kaget bahwa betapa ALLAH akan mencukupi kita dengan limpahan karunianya.

Akan tetapi, sayang sebagian besar orang tidak mengerti bahwa semua yang dititipkan ALLAH itu sebenarnya untuk bekal pulang, sehingga seluruh waktunya habis tandas hanya untuk mengejar-ngejar segala hal yang bersifat duniawi. Padahal tidak akan kemana-mana dunia ini. Bukankah ketika masih berada di rahim bundapun kita tetap diberi dunia (rizki) padahal toh kita tidak berdoa, tidak shalat tidak ikhtiar ke mana pun.

Kita memang disuruh menyempurnakan ikhtiar, tetapi bukan semata-mata untuk mencari dunia. Ikhtiar kita secara sempurna pada hakikatnya untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak. Jadi, jaminan dari ALLAH untuk kehidupan dunia ini sebenarnya ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh menyempurnakan ikhtiarnya.

Untuk bekal kehidupan dunia ini, rejeki itu oleh ALLAH dibiarkan tergantung. Lalu, Dia seolah-olah berfirman, "Ini rejekimu, kalau engkau ikhtiar, akan kau dapatkan apa yang telah ditetapkan bagimu. Kalau ikhtiarnya di jalanKu, maka tidak hanya rejekimu yang kau dapati, tetapi pahalapun akan engkau peroleh. Itulah keberkatan untukmu; di dunia ternikmati, di akhiratpun jadi manfaat. Sebaliknya, bila ikhtiarmu itu di jalan yang Aku murkai, yakni niat maupun caranya tidak benar, maka tetaplah akan kau dapati apa yang telah menjadi bagianmu, hanya, berubah statusnya menjadi haram. Rejekinya tetap didapat tetapi tidak mengandung manfaat dan keberkahan.

Memang, ada sebagian orang yang selama hidupnya begitu sibuknya banting tulang, seakan-akan takut tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpulkannya dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.

Ada juga orang yang ketika hidup ini teramat sibuk merindukan penghargaan sehingga dia capek menata rumah, capek membeli ini itu, capek mematut-matut diri dengan motivasi semata-mata ingin dihargai orang. Disisi lain ada juga orang yang hidupnya hanya mencari kepuasan, sehingga uang yang telah dikumpul-kumpulkannya dipakainya untuk pergi melancong kemana saja yang dia suka.

Bagi orang yang tahu hakikat kehidupan ini, maka pastilah yang dicarinya itu bukan dunia, melainkan Yang Memiliki Dunia! Kalau orang lain bekerja banting tulang untuk mencari uang, maka kita bekerja demi mencari Yang Membagikan Uang. Kalau orang lain belajar ingin mencari ilmu, maka kita belajar karena mencari Yang Memberi Ilmu. Kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama, maka kitapun sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari yang Yang Maha Menggerakkan siapapun yang menghargai.

Jadi jelas perbedaannya, Bagi orang yang tujuannya dunia, pasti kesibukannya hanya sebatas ingin mendapatkan itu saja.

Sedangkan bagi yang tahu ilmunya, maka yang dicari itu langsung tembus kepada pemilik dan penguasa segala-galanya. Bagi sebagian orang, tatkala membutuhkan uang, tetapi uang itu tidak didapatkan, jelas yang muncul adalah rasa kecewa. Sebaliknya bagi kita, saat membutuhkan uang, maka kita berikhtiar sekuat tenaga bukan untuk mengejar uang semata, malainkan ALLAHlah yang kita kejar. Soal dapat atau tidak dapat tak ada masalah karena ALLAH tidak akan pernah lupa memberikan karuniaNya. Kesibukan kita berikhtiar pasti sudah dicatat oleh ALLAH. Tidak ada yang rugi, tidak ada pula yang gagal.

Kalau orang bekerja karena ingin dihargai, maka bagi kita semua itu tidak ada apa-apanya karena ALLAHlah sebagai penguasa alam semesta yang menjadi tujuan segala perbuatan kita. Kadang-kadang penghargaan manusia justeru menjadi ujian bagi kita. Sebab manakala seseorang memuji kita, maka hakikatnya bukanlah karena kita layak dipuji, melainkan karena ALLAH saja yang menutupi segala aib dan keburukan kita, sehingga orang menyangka kita ini layak dipuji.

Bagi orang yang mengetahui rahasia di balik suatu kejadian, datangnya pujian itu akan membuatnya tambah malu karena itu berarti ALLAH memperlihatkan sesuatu, bahkan tidak jarang pujian itu ternyata lebih baik dari kenyataan sebenarnya yang ada pada diri kita. Kalau kita mau jujur, sungguh tidak pantas dan tidak cocok pujian itu dialamatkan kepada kita. Karenanya, janganlah lekas terpana oleh pujian manusia .

Mengapa ada orang yang bisa mendaki gunung walaupun dengan bekal dan alat seadanya? Mengapa ada orang yang berani menyeberangi lautan walaupun hanya dengan menggunakan perahu sederhana? Jawabnya, karena kekuatan terbesar adalah motivasinya. Demikian halnya kalau motivasi kita hanya sebatas dunia ini, maka tidak usah heran kalau dia akan mudah terpedaya. Akan tetapi, tidak akan pernah lelah kita mencari apapun juga karena yang kita tuju adalah Dia Yang Maha Perkasa!

Walhasil, tampaknya wajib bagi siapapun menyadari bahwa dunia ini hanya tempat singgah sejenak belaka, kalaulah ALLAH berfirman, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan ALLAH kepadamu (Kebahagiaan) negeri akhirat, (tetapi) janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi" (QS. Al Qashas 28: 77). Maka itu semata-mata dimaksudkan agar kita pandai mensyukuri apapun yang telah dianugerahkan ALLAH kepada kita selama hidup didunia ini. Adapun kebahagiaan dan kenikmatan yang kekal dan hakiki, itulah yang akan kita dapati di akhirat.


Karakteristik Pribadi Mulia


Pribadi mulia antara lain akan berbicara yang baik saja, penuh kejujuran, tidak ada kebohongan, membuat senang pendengarnya, dan tidak menyakiti atau menimbulkan amarah. Jika seluruh manusia di dunia ini memiliki karakter pribadi mulia, dapat dibayangkan betapa indahnya kehidupan ini: tidak ada konflik, permusuhan, kerusuhan, tindak kriminal, dan sebagainya. Sebaliknya, yang ada adalah semangat kerja sama, saling berkasih-sayang, tolong-menolong, dan berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.

Media massa pun akan penuh dengan berita-berita penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa maslahat, pembangunan, pertumbuhan ekonomi. Singkatnya berita-berita yang menyenangkan hati. Koran-koran kuning yang berpaham jurnalisme got, yakni menyebarkan berita kriminalitas dan eksploitasi seks, akan kehilangan sumber berita, juga kehilangan pelanggan, tidak laku, sehingga tutup.

Dapatkah kondisi demikian tercipta? Insya Allah, jika dakwah Islamiyah terus-menerus berlangsung dengan para juru dakwah berjiwa mujaddid (pembaru), muwahid (pemersatu), mujahid (pejuang), muadib (pendidik), dan musadid (pelurus) dengan keimanan dan keikhlasanya. Sasaran utama dakwah adalah perubahan pola pikir dan sikap, sehingga terbentuk manusia-manusia berkepribadian mulia. Itu pula yang menjadi misi Islam sejak kelahirannya, yakni membentuk budi pekerti yang mulia.

Akhlak tempatnya di dalam hati. Ia adalah "sentral komando" perilaku manusia. Akhlak adalah penentu baik-buruk perilaku seseorang. Fondasi akhlak yang membawa kebaikan amal perbuatan adalah dzikrullah, yakni selalu mengingat Allah SWT dalam segala kondisi. Dzikrullah adalah dasar akhlak mulia, bersama sifat pemaaf, suka mengajak kepada kebenaran, berpaling dari orang-orang bodoh, suka berlindung kepada Allah SWT dari godan syetan (QS. 7: 199-201).

Upaya dakwah hendaknya tidak lepas dari upaya pembentukan karakter pribadi mulia dengan fondasi akhlak yang mulia sebagai berikut:

Pertama, berbicara yang baik saja. "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berbicara yang baik atau (jika tidak demikian) hendaklah diam" (HR. Bukhari dan Muslim). Sebuah pembicaraan dikatakan baik apabila isinya bermanfaat, mengandung kebajikan, membuat senang pendengarnya, atau tidak menyakiti hati orang lain. Pembicaraan yang baik juga bercirikan penggunaan kata-kata yang benar atau sesuai kaidah bahasa yang berlaku (qaulan sadida, QS. 4:9), kata-kata yang tepat sasaran, komunikatif, atau mudah dimengerti (qaulan baligha, QS. 4:63), serta mengunakan kata-kata yang santun, lemah-lembut, atau tidak kasar (qaulan karima, QS. 17:23). Pembicaraan yang baik juga harus penuh kejujuran atau kebenaran (shidqi).

Kedua, malu (haya'). Malu adalah perasaan untuk tidak ingin direndahkan atau dipandang buruk oleh pihak lain. Jadi, malu adalah persoalan harga diri atau gengsi. Malu yang paling utama adalah malu kepada Allah SWT sehingga tidak berbuat sesuatu yang melanggar aturan-Nya. Malu kepada manusia harus dalam konteks malu kepada-Nya. "Sesungguhnya sebagian yang didapatkan manusia dari perkataan nabi-nabi terdahulu ialah 'Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!'" (HR Bukhari).

Ketiga, rendah hati (tawadhu'), yaitu perasaan lemah dan kecil di hadapan Allah. Sifat ini akan membuat seseorang tidak berlaku sombong, tidak memandang dirinya mulia apalagi merasa paling benar. Fadhil bin Iyadh mengatakan, tawadhu' ialah tunduk kepada kebenaran dan mengikutinya, walaupun kebenaran itu datang dari seorang anak kecil.

Keempat, senyum atau bermanis muka. Senyum adalah suatu kebajikan dan sama dengan ibadah sedekah. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya agar murah senyum, atau bermuka manis. Menyenangkan, senyum dapat kita rasakan tatkala melihat keramahan orang lain pada kita. Sebaliknya, sukakah kita melihat orang cemberut dan bermuka masam terhadap kita? Rasulullah bersabda, "Kamu tidak bisa meratai (memberi semua) manusia dengan harta-hartamu, tetapi hendaklah bermanis muka dan perangai yang baik dari kamu meratai mereka" (HR Abu Ya'la).

Kelima, sabar. Bersabar dalam pergaulan adalah sifat mukmin sejati. Dalam bergaul kita menemui banyak orang dengan ragam watak dan perilakunya: ada yang menyenangkan, ada pula yang menyebalkan. Terhadap yang tidak menyenangkan, kita diharuskan bersabar menghadapi sikap mereka. "Mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka lebih baik daripada yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka" (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Imam Al-Ghazali mengatakan, "Sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya adalah atas dorongan ajaran agama". Menurut Nabi SAW ada beberapa tingkatan sabar, yaitu (1) sabar dalam menghadapi musibah, (2) sabar dalam mematuhi perintah Allah SWT, dan (3) sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan maksiat. Sabar yang pertama merupakan kesabaran terendah, yang kedua merupakan tingkat pertengahan, dan yang ketiga merupakan kesabaran tertinggi (HR Ibnu Abi Ad-Dunia).

Keenam, kuat atau tahan banting. Kuat artinya memiliki ketahanan mental dan fisik yang tinggi. Tidak mudah putus asa, tidak suka mengeluh, dan sehat jasmani-rohani. Kuat juga bisa dimaknai unggul dan berkualitas. Janganlah berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir (QS. 12:87).

Ketujuh, pemaaf, tidak pendendam. Memaafkan kesalahan manusia dan menahan amarah adalah ciri orang bertakwa (QS. 3: 134). "Allah tidak akan menambah seseorang yang suka memberi maaf melainkan dengan kemuliaan" (HR Muslim).

Kedelapan, menahan amarah. Marah dapat membawa malapetaka. Orang sedang marah dikuasai hawa nafsu dan setan. Pikirannya menjadi tidak jernih, tidak bersih. Akalnya menjadi tidak berfungsi normal. "Bukanlah orang yang gagah perkasa namanya ia yang kuat bergulat, tetapi yang disebut gagah perkasa itu ialah orang yang dapat mengendalikan nafsunya (dirinya) ketika sedang marah" (HR Bukhari Muslim).

Kesembilan, zuhud. Ketika seorang sahabat meminta nasihat tentang amal yang disukai Allah dan manusia, Nabi SAW menegaskan: "Berzuhudlah dari dunia, niscaya Allah menyukaimu dan zuhudlah dari apa yang di tangan manusia, niscaya manusia menyukaimu" (HR Ibnu Majah). Zuhud adalah sikap tidak terlalu mencintai dunia, bahkan membencinya dalam batas-batas yang wajar. Menurut Rasulullah SAW, "Zuhud di dunia tidak mengharamkan yang halal dan tidak membuang harta..." (HR Tirmidzi).

Kesepuluh, Qonaah, yaitu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Sikap demikian membuatnya tenang dan senantiasa mensyukuri pemberian-Nya, sedikit ataupun banyak. "Bukanlah orang kaya itu yang banyak hartanya, melainkan yang kaya jiwanya (hatinya)" (HR Bukhari dan Muslim).

Kesebelas, wara, yakni menjauhi hal syubhat karena takut jatuh kepada keharaman. Syubhat artinya tidak dapat dipastikan halal-haramnya (berada antara halal dan haram). Nabi SAW mengatakan, siapa yang menjauhi syubhat berarti ia membersihkan diri dan agamanya. Siapa yang mendekati syubhat, maka dikhawatirkan termasuk pada hal haram (HR Muttafaq 'Alaih).

Keduabelas, suka menolong, yaitu membantu orang yang sedang dalam kesulitan, selama berada pada garis kebaikan dan takwa. Termasuk menolong orang lain adalah menutupi aibnya sehingga tidak membuatnya malu. "Siapa yang menutupi aib orang mukmin, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan tetap menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya" (HR Muslim).

Demikianlah karakteristik pribadi mulia yang harus kita tanamkan dalam diri kita dan didakwahkan kepada orang lain. Semoga Allah memberikan bimbingan dan pertolongan kepada kita dan para mujahid dakwah.
Wallahu a'lam.


Indahnya Nasihat





Ya Allah indahkan kehidupan kami dengan kerinduan terhadap nasehat dan jadikan diri-diri kami menjadi pribadi yang menjadi nasehat.Engkaulah pembuka setiap hati penuntun setiap qolbu, Amiin Ya Allah Ya Robbal alamiin.

Kajian kita kali ini adalah bagaimana menjadi orang yang beruntung, bagaimana menjadi orang yang sukses, tidak hanya dunia tapi juga sampai akherat nanti.

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar ada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasihat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya menaati kesabaran. [Q.S 103 ; 1 - 3]

Sesungguhnya setiap insan rugi, tambah hari tambah rugi  tambah tua tambah rugi, tambah umurtambah rugi kecuali orang yang tiap hari berjuang sekuat tenaga agar makin kokoh imannya, makin mantap keyakinanya, karena jika hidup tanpa diiringi kekokohan iman, amal apapun tidak akan betul niatnya.

Dia punya harta, kalau tidak punya iman, maka harta itulah yang akan memperbudak dirinya, kalau dia punya kedudukan kalau tidak punya iman maka kedudukannya yang akan menjatuhkan dirinya, jika dia memiliki penampilan kalau dia tidak punya iman maka penampilannya yang akan menjerumuskan dirinya.

Orang yang beruntung lainnya adalah orang yang setiap hari, setiap waktu sekuat tenaga bertambah amal kebaikannya.Ciri amal shaleh itu ada dua yaitu; pertama dilandasi niat yang benar dan lurus, kedua amalnya sendiri harus benar.

Dan andaikata bangsa kita ini menggunakan konsep ini, maka Insya Allah akan selamat.Penyebab bangsa ini mendapat ujian seperti ini diantaranya ada tiga penyebab yang pertama adalah karena bangsa kita masih lemah iman

Lalu apa ciri-ciri orang yang kurang iman? sederhana saja yaitu jika orang-orang tersebut selalu mengagung-agungkan materi dan mengagung-agungkan dunia.Terjadinya kita mendapatkan gelar ranking yang top dalam korupsi itu gara-gara para pelaku korupsi itu tidak mengerti bahwa korupsi itu hanya menambah kehinaan.Bagi orang yang mengenal Allah buat apa kita menggadaikan diri kita hanya menjadi pencuri.

Penyebab bangsa ini mendapat ujian seperti ini yang kedua adalah karena bangsa kita masih kurang amal dan yang ketiga adalah tidak saling nasehat dan menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Kalau ada pertanyaan kenapa seorang suami gagal dalam menasehati istrinya?, kenapa seorang ibu susah menasehati anaknya? kenapa seorang guru susah menasehati muridnya? kenapa seorang pimpinan sulit menasehati bawahannya? jawabannya sederhana “ Orang hanya bisa memberikan nasehat dengan mantap ! kalau dia termasuk orang yang cinta dinasehati oleh orang lain”.

Repotnya kita ketika memberikan nasehat semangat, ketika memberikan saran semangat, ketika memberikan koreksi semangat tetapi ketika giliran kita dikoreksi justru kita tidak sanggup menerimanya. Oleh karena itu kepada siapapun yang akan memberikan nasehat syarat utamanya adalah kita harus menjadi orang yang terlatih untuk menerima nasehat, terlatih untuk menerima kritik dan terlatih untuk menerima koreksi.Sebelum kita sanggup untuk melatih diri kita, sulit sekali kita akan memiliki nasehat yang memiliki kekuatan yang menggugah dan merubah. Harusnya kita melihat saran, kritik dan nasehat dan koreksi itu menjadi sebuah kebutuhan.

Rahasia sukses dalam menerima nasehat atau kritik yaitu :

1.Rindu kritik dan nasehat, Kita harus memposisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi, rindu dinasehati, seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus.Pemimpin sejati adalah pemimpin yang selalu rindu dikoreksi oleh anggota atau bawahannya, seorang guru yang senantiasa mengharapkan saran agar lebih baik dalam cara mengajarnya tidak akan pernah menjadi hina jika ia meminta saran atau kritik dari murid-muridnya, bahkan Khalifah Umar Bin Khatab RA jauh lebih menghargai kritik dan koreksi dibandingkan pujian.

2.Cari dan tanya, Belajarlah bertanya kepada orang lain dan nikmati saran-saran yang mereka lontarkan, milikilah teman yang mau jujur mengoreksi, tanya pula kepada istri, suami, anak-anak, karyawan dan lain-lain.

3.Rahasia kita agar sukses ketika menerima kritik adalah nikmati kritik itu sebagai karunia Allah ; karena seseorang tidak akan mati karena dikritik, maka oleh karena itu jika di koreksi maka dengarkanlah, jangan sibuk membela diri karena makin sibuk membela diri maka tidak akan mendapatkan sesuatu.

Memang orang yang lemah,orang yang sombong , orang-orang yang penuh kebencian itu tidak pernah tahan terhadap kritik, jika ada yang mengkoreksi maka dirinya sibuk untuk membela diri, sibuk untuk berpikir dan sibuk untuk membalas, ketahuilah bahwa orang yang demikian itu tidak akan bisa maju..

Orang yang kokoh dan kuat itu bukan orang yang sibuk memberikan alasan ketika dia dikritik, karena jika tidak hati-hati alasan itu justru memperjelas kesalahan.Dari pada kita sibuk menyerang orang lain dan membela diri, sebaik-baik jawaban atas kritik dan koreksi adalah dengan memperbaiki diri.Orang lain sibuk mencari kejelekan kita, tetapi kita justru sibuk memperbaiki kejelekan kita.

Lalu bagaimana jika lalu kita dihina terus ? jangan risau , karena semua orang yang sukses dan mulia itu pasti ada yang menghina, tidak akan pernah didengki kecuali orang yang berprestasi, makanya jangan takut ! kalau kita dihina justru kita harus sibuk memperbaiki diri.

4.Biasakanlah kita untuk menjadi orang yang berterima kasih,kalau kita berubah,..... jangan pernah lupa untuk menyebut jasa orang yang pernah merubah kita sehingga kesuksesan ini harus jadi kebahagiaan dan kesuksesan bagi orang lain.

Jadi sahabat-sahabat sekalian, cita-cita kita nanti ciri khas seorang pemimpin negeri ini adalah seorang pemimpin yang rindu di nasehati,jadi ketika masyarakatnya melakukan koreksi justru pemimpin tersebut senang, kelihatannya kita jangan pernah mau memiliki pemimpin dalam level manapun yang tidak bisa dikoreksi,nanti dia akan menipu dirinya sendiri, orang yang tidak bisa dikoreksi itu adalah orang yang sombong, merasa pintar sehingga menganggap rendah setiap nasehat. Ciri pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang mencintai nasehat.

Jadi memang seharusnya kita harus sadar ,bahwa keuntungan kita adalah ketika kita menerima nasehat dari orang lain dengan lapang dada dan rasa syukur, Belajarlah berterima kasih kepada orang yang mengoreksi, karena koreksi itu adalah bagian dari yang kita minta kepada Allah seperti yang sering kita ucapkan dalam bacaan shalat " Ihdinashiraathal mustaqiim" (tunjukilah kami jalan yang lurus)[Q.S 1 ; 6]

Dalam berkomentar atau melakukan kritik itu harus hati-hati , karena setiap kita mengkritik dan mengoreksi sesorang sebetulnya yang keluar itu adalah diri kita.Nabi Muhammad SAW itu adalah seorang penasehat, tetapi nasehatnya itu betul-betul bil hikmah, semuanya penuh dengan kearifan dan kematangan.

Yang paling penting dari suatu nasehat, kritik dan koreksi itu adalah niat yang mendasarinya. Kalau didasari niat ingin menjatuhkan ,koreksi itu hanya akan menjadi pisau atau panah beracun.Harusnya nasehat kita itu dilandasi dengan rasa kasih sayang dan persaudaraan.

Dengan nasehat kita harus membantu yang lupa agar menjadi ingat, membantu yang lalai agar menjadi semangat , yang tergelincir menjadi bangkit kembali, yang berlumur dosa menjadi bertobat, intinya kalau dilandasi niat yang baik akan melahirkan kebaikan juga.

Kalau niat sudah baik caranya juga harus benar, Ali Bin Abi Thalib .RA mengatakan "kalau kita memberi nasehat tetapi di depan umum itu sama dengan memaki-maki atau mempermalukan seseorang", maka resep selanjutnya kalau kita ingin memberikan nasehat, nasehatilah dengan lemah lembut. "Tiadalah kelembutan itu ada pada seseorang kecuali memperindah".

Rasullulah SAW memperbaiki peradaban yang begitu keras dan berat justru dengan kelembutan, kita butuh nasehat yang tulus dari hati yang penuh kasih sayang dengan kata-kata yang terpilih yang tidak melukai diiringi dengan sikap yang tidak menggurui, tidak mempermalukan, tidak memojokan sehingga orang berubah bukan karena ditekan oleh kata-kata kita melainkan tersentuh oleh kata-kata kita.

Sahabat-sahabat, marilah kita terus berlatih untuk menyayangi orang lain karena itulah sumber yang utama agar nasehat kita menjadi bijak dan penuh kemuliaan.Dan sebaik-baik nasehat adalah dengan suri tauladan, hancurnya orang-orang yang sibuk memberi nasehat adalah ketika apa yang dia katakan tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan. Wallahu a’lam bishowab (


Indahnya Kedamaian


Semoga Allah yang Mengenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita semua agar dapat memahami hikmah dibalik kejadian apapun yang menimpa dan semoga Allah membimbing kita untuk bisa menyikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik kita

Saudaraku,negeri kita kini benar-benar sedang berduka dimana telah terjadi musibah yang memilukan di Bali yang telah memakan korban 171 Orang tewas, 100 ruko terbakar, 25 mobil hancur.Kita benar-benar merasa prihatin, seluruh ummat Islam serta masyarakat Indonesia benar-benar prihatin atas kejadian ini, kami tidak bisa menerima kekejian - kekejian seperti ini,kepada saudara-saudaraku yang berada di Bali atau di tempat yang terkena musibah,semoga tetap diberikan karunia kepala yang dingin sehingga dapat berpikir jernih supaya musibah ini tidak menjadi musibah-musibah lainnya dan semoga aparat dengan bimbingan Allah dengan segera dapat menemukan siapa biang kedzaliman seperti ini.

Memang dengan adanya isu terorisme di dunia ini yang secara tidak langsung benar atau tidak benar mengarah ke negeri ini akan menjadi cobaan bagi kita,oleh karenanya kewaspadaan harus kita tingkatkan agar tidak termakan isu yang hanya akan menyebabkan negeri kita menjadi ambruk oleh sikap kita sendiri.

Saya percaya sepenuhnya bahwa tidak mungkin orang yang beriman akan berperilaku keji seperti ini, mestilah yang berbuat kekejian seperti ini adalah orang yang menginginkan kerusakan bagi kita semua.Bali adalah propinsi yang dikenal aman sehingga sering dikunjungi oleh wisatawan dari mancanegara ,tetapi dengan diledakkan bom disana yang memakan korban begitu banyak orang asing tentu akan memojokkan negeri kita ini.

Dengan adanya kejadian ini, bagi ummat Islam di Indonesia dan juga umat lainnya benar-benar diharapkan akan menjadi momentum yang baik untuk saling memperat persaudaraan, bergandengan tangan, jangan sampai kejadian ini justru memecah belah kita, karena kalau kita pecah, tidak akan lagi kekuatan.

Semoga Allah yang Maha Tahu benar-benar menolong kita semua untuk mengetahui siapa dibalik kekejian ini. Mungkin bagi yang menginginkan kehancuran ummat ,kehancuran negeri,yang dengan sengaja melakukan perbuatan seperti ini mereka berharap nama baik negeri kita semakin tercoreng, umat Islam juga mungkin akan dijadikan sasaran Naudzubillahi Mindzalik.

Namun demikian jangan pernah kita bertindak emosional sehingga kita terjebak dan justru hanya akan memperparah masalah. Mudah-mudahan saudara-saudaraku di Bali dan juga di Sulawesi yang ditimpa musibah diberikan kesabaran dan kesanggupan untuk terus menerus bertindak tepat sehingga memudahkan penyelesaian masalahnya, dan semoga kejadian ini dapat mempererat kebersamaan seluruh anak bangsa agar kita tidak menjadi hancur karena provokasi orang-orang yang keji. Saudara-saudaraku sekalian, Alhamdullilah saat melakukan kunjungan ke Poso beberapa waktu yang lalu dari pengamatan di udara tampak betapa Masjid yang terbakar, Gereja yang hangus, rumah-rumah yang hancur, ladang dan toko yang rusak, kaum muslimin yang kehilangan ayah, istri, anak disatu sisi lain kaum Nasrani yang kehilangan ayah, suami ,istri ,anak, suasana pada waktu konflik begitu mencekam, hari-hari pada waktu konflik begitu penuh ketegangan.Pertanyaannya siapakah yang beruntung dari kerusakan seperti ini ?

Alhamdullilah, dengan pertolongan Allah dan kebaikan bapak-bapak Polisi, Bupati dan juga undangan dari pendeta di Tentena (sebuah lingkungan yang mayoritas Nasrani), dengan pembicaraan yang dilakukan dari hati ke hati ternyata lebih mudah dipahami dibandingkan jika pembicaraan yang dilakukan oleh otot ke otot.

Saudaraku yang paling kita butuhkan di negeri ini adalah kedamaian,alam negeri kita sangat kaya dan tidak akan bisa kita kelola jikalau waktu kita habis untuk bertengkar, jangankan sebuah Negeri, di rumah pun yang kita bangun dengan kasur yang empuk, acesories rumah yang mahal, tidak akan ternikmati andaikata suami dan istri sibuk bertengkar, tidak akan bahagia jika orang tua dan anak selalu bertengkar,di kantor tidak akan nyaman jika karyawan dan direksi atau manajemen bertengkar, apa yang bisa diperoleh dari pertengkaran ?

Mengapa kita bertengkar ? Salah satu penyebabnya adalah karena kita belum terbiasa menyikapi perbedaan dengan cara yang paling tepat, kita sering melihat perbedaan itu sebagai permusuhan, mental kita belum siap melihat perbedaan, beda pendapat sering dianggap perlawanan atau ancaman akibatnya setiap orang lebih sibuk membela pendapatnya sendiri.

Pertengkaran rumus dasarnya adalah ketika setiap orang membenarkan pendapatnya, setiap kelompok membenarkan ,ini merasa benar, itu merasa benar, kita ambil contoh; seorang anak merasa benar, bahwa memilih sekolah harus sesuai dengan pilihan anak,sedangkan orang tua merasa benar dengan memilihkan jodoh atau sekolah untuk masa depan anak,akibatnya terjadi pertengkaran, setiap orang yang tidak terlatih untuk bisa memahami pendapat orang lain hasilnya adalah emosional.

Semua pertengkaran diawali dengan pembenaran,ketika terjadi tawuran antar kampung dengan saling melempar batu, saling melempar bom molotov, salah satu pihak merasa benar sehingga pihak lain merasa berhak pula untuk membalas karena sama pula merasa benar, akibatnya pembalasan itu akan setimpal, saling menyerang, rumah sama-sama terbakar, banyak yang terluka, cacat, terbunuh,akibatnya hari-hari yang dilalui penuh ketegangan,anak-anak tidak bisa sekolah lagi, tidak bisa mencari nafkah, apa yang diuntungkan? Hidup di dunia hanya satu kali saudaraku, dan belum tentu kita panjang umur, haruskah hidup yang sekali-kalinya ini sengsara karena permusuhan diantara kita.

Kita harus berbuat banyak untuk mencapai kedamaian, kalau tidak damai tidak ada yang bisa dinikmati, tidak nyaman, sekolah tegang, dijalan tegang, guru was-was, orang tua melepas anak cemas. Kita harus bertekad program terpenting kita sekarang adalah belajar untuk tidak bertengkar; ibu-ibu belajar untuk tidak bertengkar dengan suami, berani mengalah untuk tidak bertengkar,bapak berani mengalah kepada istri untuk tidak bertengkar, mulailah dari diri sendiri, InsyaAllah kedamaian akan dinikmati.

Kita harus mengawali untuk menyelamatkan dan merubah bangsa ini, dengan mengawali dari diri sendiri, sehebat apapun kita ingin bangsa ini berubah, kita ingin umat berubah, kita ingin keluarga berubah, kita ingin anak berubah, tidak akan bisa kalau kita tidak merubah diri.Silahkan bapak memberi nasehat kepada ibu dengan memberikan nasehat yang terbaik, tidak akan efektif kalau bapak tidak memperbaiki diri ! ibu memberi nasehat kepada anak sampai bibir berbusa tidak akan efektif kecuali kalau ibu memperbaiki diri.

Sekarang kita terlalu banyak memikirkan orang lain yang berubah sampai tidak ada waktu untuk merubah diri. Para komandan, para pimpinan, ingin prajuritnya berubah, tidak akan terjadi sebelum para pemimpinnya merubah diri.

Jika seorang komandan ingin pasukan berubah maka komandannyalah yang harus berubah. Bagaimana mungkin memerintahkan prajurit, hidup bersahaja, kalau pimpinan tidak bersahaja, jangan menyuruh orang lain,sebelum menyuruh diri, jangan melarang orang sebelum melarang diri sebab yang disuruh, memiliki mata, telinga dan pikiran, setiap orang yang berbeda antara perkataan dan perbuatan akan jatuh wibawanya walaupun kita tidak berkata tetapi kalau kita gigih memperbaiki diri itu sudah berdampak sudah banyak.

Kepada para pimpinan misalkan jika saya, seorang gubernur, ingin masyarakat berubah, tentu kita  harus bertanya sudah memberi contoh apa kita untuk masyarakat ? Saya ingin masyarakat sholeh? Sudah sholehkah yang bicaranya ? Ingin masyarakat akur ? pertanyaannya ,sudah akurkah saya dengan istri? akur tidak dengan anak? Maaf ini bukan menggurui para gubernur ? ini hanyalah sebuah cerita di negara antah berantah.

Kalau saya seorang guru ingin merubah murid , mau merubah apa ? Pertanyaan seorang guru, Saya memberi contoh apa pada murid-murid? Murid merokok? Pertanyaannya saya merokok tidak?Bagaimana murid tidak merokok kalau gurunya merokok. Maaf misalnya saya seorang guru, kenapa murid mengganja ? Mungkin awalnya merokok , Kenapa murid merokok? Saya yang memberikan contoh. Oleh karena itu Ibda binafsik mulailah dari diri sendiri.  Bukankah konsep kita ada tiga :
1. Mulailah dari diri sendiri
2. Mulailah dari hal yang kecil
3. Mulailah saat ini juga

Apa yang harus kita lakukan? kita harus berlatih untuk meminimalisir konflik dengan empat rumus :

1. Kita harus belajar bijak terhadap kekurangan dan kekurangan orang lain; Tidak setiap orang berbuat salah , ada yang salah karena tidak tahu itu salah, ada yang salah dia tahu tapi belum sanggup menghindar, ada yang salah karena terpaksa, ada yang salah karena memang sering bikin kesalahan.

2. Kalau kita ingin enak bergaul dengan orang lain kita harus senang mengingat kebaikan dan berani mengakui kelebihan orang lain ; Kita ambil contoh seseorang ,ketika seorang anak marah kepada ibunya, cobalah untuk menuliskan kekurangan ibu, setelah selesai cobalah untuk menuliskan kebaikannya, apa yang ditulis ? kita di dalam perut ibu selama sembilan bulan,ibu kita untuk berdiri sulit, berbaring sakit, berjalan berat ,ketika melahirkan bersimbah darah sudut antara hidup dan mati, ketika bayi…… sepanjang hari, sepanjang malam ibu senantiasa menungu,ketika kita pipis dan mengenai baju ibu, ibu kita tetap rela,apalagi kalau kita sakit seakan tidak boleh satu nyamuk pun menyentuh tubuh ini, waktu kita sekolah ibu sampai hutang bapak pinjam uang, agar kita punya sepatu, agar kita bisa sekolah.Semakin banyak kebaikan yang kita pikirkan Insya Allah akan membuat semakin lunak hati ini, semakin banyak keburukan yang kita kumpulkan semakin dendam kesumat diri ini. Masalahnya kita itu sering lebih sibuk melihat kejelekan daripada kebaikan. Tidak adil saudaraku, kita tidak bergaul dengan setan, pasti ada kebaikannya, kita tidak bergaul dengan malaikat, pasti ada kejelekannya, maka marilah senang melihat kebaikan orang lain. 

3. Kita harus mulai untuk melupakan jasa dan kebaikan dir ; Semakin kita ingin dihargai, semakin kita ingin dihormati, semakin kita ingin dipuji, semakin kita banyak sakit hati hanya akan menyengsarakan kita , oleh karena itu lupakanlah……. Allah Maha Melihat semakin kita merasa berjasa hanya akan menyebabkan sakit hati,saudaraku pujian manusia kecil, pujian Allah-lah yang kekal,Pujian Allah mulia dunia akherat.

Wahai saudara-saudaraku para pembela umat marilah kita melupakan jasa-jasa kita, tidak mengapa orang lain tidak ada tahu, Aa terkenang dengan nasehat Bung Hatta semoga Allah memuliakan beliau, jadilah seperti garam dilautan, asin terasa tapi tidak kelihatan, jangan seperti gincu kelihatan tapi tidak terasa, kita harus memulai berbuat sesuatu seperti beton, mengokohkan tanpa harus kelihatan, seperti jantung, siang malam kerja tanpa kelihatan ,kita tidak akan sukses kalau tiap kelompok ingin menonjolkan diri, pemilu yang akan datang sebaiknya partai jangan sibuk menonjolkan diri tapi menonjolkan kebersamaan Insya Allah akan berbuah kesuksesan.

4. Marilah kita sibuk melihat kekurangan diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain; Sehebat apapun perkataan kita tidak akan ada harganya kalau kita tidak memperbaiki diri.

Wallahu A'lam.


Indahnya hidup merdeka


Segala puji bagi Allah Yang Maha Agung, yang selalu ingin membahagiakan hamba-hamba-Nya, dengan menjadi pribadi yang bebas dari perbudakan hawa nafsu, perbudakan cinta dunia, atau perbudakan apapun yang akan merampas kemuliaan dan kebahagiaannya. Satu-satunya jalan menjadi tuan yang berhak memerintah dan mengatur dirinya sendiri adalah dengan menjadi hamba Allah semata.

Shalawat dan salam semoga tercurah bagi baginda Rasulullah Saw. yang hidupnya benar-benar merdeka dari perbudakan apapun, selain mulia menjadi hamba Allah semata.

Saudara-saudaraku yang budiman, alangkah pilu dan pedih melihat bangsa yang terjajah dan terampas kemerdekaannya. Diatur dan diperintah semata-mata untuk mengikuti selera yang menjajah. Tiada ketentraman, tiada cita-cita, tiada kebahagiaan, dan tiada masa depan yang cerah.

Kita saksikan pula negeri kita yang pernah dijajah Belanda 350 tahun lamanya, lalu dilanjutkan oleh penjajahan Jepang. Hasilnya, walaupun kini kita sudah merdeka tapi kita tetap terpuruk dalam ujian yang seakan tiada akhirnya. Karena kendatipun bangsa kita telah merdeka, ternyata sebagian besar pemimpin dan rakyatnya--serta boleh jadi termasuk kita-- masih dijajah oleh bentuk penjajahan yang lain, yang membuat hidup kita tidak bahagia, tidak merdeka dan tidak mulia.

Pertemuan kali ini mudah-mudahan akan mengantarkan kita untuk menyadari betapa pentingnya membebaskan diri dari belenggu yang akan merusak martabat kita sebagai manusia mulia, karena terjajah oleh sesuatu selain Allah.

Hidup yang merdeka adalah:

1. Tidak Disiksa oleh Banyaknya Keinginan

Memiliki keinginan adalah sesuatu yang sangat manusiawi, bahkan manusia bisa maju dan berprestasi karena keinginan. Tetapi, jikalau hidup diperbudak keinginan sampai terampas kebahagiaan, ibadah, waktu, pikiran, tenaga, bahkan biaya hanya untuk meladeni keinginan kita, dan keinginan tersebut nyata-nyata tidak membawa manfaat bagi kemuliaan dunia dan akherat, berarti kita sudah dijajah oleh keinginan.

Simaklah orang yang disiksa oleh keinginan memiliki rumah megah, mobil baru, penampilan yang selalu trendi, hari-harinya benar-benar hari-hari yang terjajah. Tidak layak kita menggadaikan hidup ini untuk meladeni setiap keinginan.

Kita harus selalu berpikir jernih. Keinginan yang harus kita penuhi adalah keinginan yang disukai oleh Allah, yakni keinginan yang bisa menjadi ladang amal saleh kita dan bekal untuk kepulangan kita ke akhirat. Dengan demikian perjuangan kita pun akan menjadi ibadah. Dapat atau tidak yang kita inginkan, insya Allah tetap menjadi amal kebaikan dan bisa menjadi bekal pulang yang bernilai.

Fadiza’azamta fa tawakkal allallah Luruskan niat, sempurnakan ikhtiar, dan bertawakallah karena tawakal itulah hakekat keinginan. Yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Begitupun sebaliknya, buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah.

“Waasaantakrahu syaiawwahuwa khairullakum waasyaantuhibbuu syaiawwahuwa syarrullakum wallahu ya’lamu waantum lata’lamun” Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah 216). Dengan kata lain, silakan miliki keinginan tapi pastikan keinginan itu menjadi pengantar ke jalan yang lurus dan ikhtiar di jalan Allah serta serahkanlah kepada Allah apa yang terbaik menurut Allah semata. Insya Allah kita akan bebas dari penderitaan disiksa oleh keinginan.

2. Bebas dari Perbudakan Nafsu

Nafsu adalah bagian dari karunia Allah yang melengkapi kehidupan kita menjadi bahagia bahkan mulia. Namun, nafsu harus terkendali. Kita lihat orang-orang yang diperbudak nafsu syahwat, hari-harinya hanya memikirkan kemaksiatan. Perencanaannya berencana berbuat maksiat.

Bahkan kita lihat ada orang yang melumuri dirinya dengan perbuatan yang sangat rendah karena diperbudak oleh syahwat. Dia berzina dan memperkosa, sehingga menghancurkan nilai-nilai yang ada pada dirinya dan juga menghancurkan orang lain, semata-mata karena diperbudak oleh syahwat. Padahal kalau kita lurus di jalan Allah maka kita akan mendapatkan ganjaran dari setiap aktifitas yang kita lakukan.

Begitu pula orang yang diperbudak nafsu amarah, pikirannya penuh kekejian, dendam membara, tutur kata penuh angkara murka, tindakan menjadi keji dan hina, dan sudah pasti dia tidak akan pernah disukai oleh orang lain, sehingga hari-harinya penuh ketegangan, na’uzubillahi minzalik.

Untuk itu, waspadalah bagi siapapun yang tidak bersungguh-sungguh melatih diri untuk mengendalikan amarah, maka akan habis kehidupannya karena dijajah oleh nafsu amarah.

Wahai sahabatku yang baik, hidup tidak pernah bahagia dan mulia bagi orang-orang yang dijajah oleh kemarahan. Kita harus berjuang sungguh-sungguh untuk melatih diri menjadi seorang yang dapat mengendalikan marah, melatih diri untuk tidak mudah tersinggung, melatih diri untuk mudah memaafkan dan memakliumi keadaan orang lain, bahkan kalau bisa latih diri kita untuk membalas dengan kebaikan kepada orang-orang yang khilaf berbuat keburukan kepada kita. Kalau kitaterkendali dari nafsu amarah dan syahwat, insya Allah hidup ini lebih ringan dan bermartabat.

3. Tidak Diperbudak Asmara

Salah satu yang memperindah dan menghiasi hidup kita adalah cinta. Tapi kita lihat ada orang yang dikutuk orang tuanya, bahkan terjerumus ke lembah nista dalam perbuatan-perbuatan yang hina justru karena cinta--tentu cinta buta yang membuat tidak bisa melihat kebenaran.

Waspadalah saudaraku, jatuh cinta ibarat memasuki sebuah pusaran air, kalau tidak hati-hati semakin cinta semakin membelenggu, semakin hanyut, berkurang rasa malu, dan membara nafsu yang akhirnya menyengsarakan dunia akhirat, kecuali cinta di jalan Allah.

Jatuh cinta ibarat memasukkan ayam kampung ke kamar, akan sulit mengusirnya. Kalaupun susah payah mengusir, maka kamar akan berantakan. Begitulah orang-orang yang dilanda asmara dan tidak sungguh-sungguh menjaga diri.

Oleh karena itu jauhilah percintaan yang tidak disukai dan tidak di jalan Allah. Milikilah cinta yang asli karena Allah yang caranya betul-betul menegakkan apapun yang diaturkan dalam agama. Percayalah, rambu-rambu yang diberikan oleh Allah akan membuat diri kita tidak diperdaya oleh cinta yang tampaknya indah padahal bisa jadi menjerumuskan, na’uzubillahi minzalik. Berlindunglah kepada allah supaya kita tidak diperbudak oleh asmara membuta.

4. Orang yang Jujur

Saudaraku, setiap kali berbohong maka bohong itu akan menjadi penjara bagi kita. Kita akan selalu was-was, takut diketahui kebohongan (kedustaan) kita yang mengharuskan kita berbuat bohong lanjutannya. Dan bohong itu pun tentu akan menjadi penjara baru. Demikianlah kurang lebih bagi orang-orang yang berdusta, berbohong atau tidak jujur dalam hal apapun.

Oleh karena itu tidak akan merdeka orang-orang yang tidak menjaga dirinya dari kedustaan dan ketidakjujuran. Pastikanlah kita menjadi orang yang menikmati hidup jujur. Semakin sedikit rahasia semakin merdeka hidup ini. Semakin tidak mengenal dusta, semakin tidak terancam diri ini. Tak ada yang membuat kita takut harus diketahui aib dan kebohongan oleh orang lain karena memang kita tidak menyembunyikan sesuatu.

Lebih baik kita disisihkan karena kita jujur daripada kita diterima karena berdusta, berarti sepanjang waktu kita akan penuh ketegangan. Selamat berbahagi bagi saudara yang berjuang menjadi pribadi yang jujur terpercaya karena itulah milik orang-orang yang merdeka dan jujur.

5. Orang yang Tawadhu

Rendah hati adalah kunci kebahagiaan. Semakin kita ingin dihargai, semakin ingin dihormati, semakin ingin dipuji, semakin ingin diperlakukan lebih, maka semakin sengsara hidup ini, karena kita semakin butuh kepada orang lain. Padahal orang lain belum tentu sesuai keinginannya dengan kita.

Orang yang rendah hati, pikirannya adalah justru ingin melihat orang lain lebih berhak untuk dihargai, lebih berhak untuk dihormati, dan tidak melihat orang lain lebih rendah dari dirinya. Ketawaduaan tidak akan pernah menghinakan, bahkan sebaliknya akan mengangkat derajat seseorang.

Sebagaimana yang dijaminkan oleh Rasulullah Saw, “Wa maa tawaadla’a ahadun lillahi illa ra fa’ahullah”Dan seseorang yang selalu merendahkan diri karena Allah, pasti Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR.Muslim). Adalah mimpi kita bahagia jikalau kita menjadi orang yang sombong dan takabur. Kebahagian dan kemerdekaan adalah milik orang-orang yang rendah hati.

6. Orang yang Ikhlas

Ikhlas adalah kunci kemerdekaan hati. Orang-orang yang ria yang hidupnya tamak akan pujian akan menjadi korban mode dan korban jaman. Tetapi orang-orang yang ikhlas tidak pusing dengan penilaian manusia. Yang dia pikirkan adalah selalu memikirkan yang terbaik, dan puas dengan penilaian Allah Yang Maha Dekat serta ganjaran dari Allah yang melimpah dan tidak mengecewakan.

Wahai saudaraku yang baik, marilah kita nikmati menjadi orang yang tidak terpengaruh oleh kerinduan dipuji orang lain. Pujian orang hanyalah tipu daya bagi kita, cobaan yang membuat kita sering menipu diri padahal kita tidak layak dipuji. Tapi pujian dari Allah akan menyelamatkan kita dunia akhirat. Karena Allah yang menggenggam setiap rezeki, kedudukan, kemuliaan, bahkan nikmat dunia akhirat. Untuk apa kita dipuji makhluk yang pasti binasa. Lebih baik puaskan diri ingin dipuji Allah, itulah yang membuat kita merdeka dalam hidup ini

7. Orang yang Tawakal

Semakin banyak bergantung kepada sesuatu maka kita akan takut kehilangan sesuatu. Seperti orang yang bersandar di kursi akan takut kursinya diambil. Tetapi bergantung kepada Allah, itulah yang akan memuaskan karena Allah menggenggam segala yang kita butuhkan. Allah Maha Tahu masalah kita, Allah Maha Tahu segala jalan keluar dari kesulitan kita, dan Allah-lah yang kuasa atas segala-galanya.

“Wamayyattakillah yajj’allahumakhraja Wayarzukhuminhaytsu laayahtasib Wamayyatawakkal ‘allallah fahuwa hasbuh” Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).(QS. Ath Thalaq ; 2-3)

Sahabat-sahabatku yang budiman, untuk apa kita bergantung kepada manusia. Makhluk adalah lemah tiada daya dan tidak bisa memberi manfaat bagi kita tanpa izin Allah dan juga tidak bisa memberikan mudharat. Walau bergabung jin dan manusia akan berbuat sesuatu kepada kita tidak akan bisa menimbulkan mudarat kepada kita tanpa izin Allah

Marilah kita puaskan diri kita, ikhtiar kita, dan ketawakalan kita. Gigihnyanya ikhtiar jangan mencuri hati dari tawakkal kepada Allah. Yakinnya kepada Allah jangan pernah mengurangi ikhtiar kita, itulah orang-orang yang akan menikmati kemerdekaan dalam hidup ini. Akhlaknya jadi mulia dan indah kalau setiap perilakunya bisa menjadi amal shaleh yang menjadi bekal kebahagiaan dunia dan menjadi bekal perjumpaan dengan Allah Azzawajalla.

Sekali merdeka tetap merdeka. Sekali menjadi hamba Allah selama-lamanya hanyalah untuk mengabdi kepada Allah. Wallahua’lam


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

HACKING

Terbaru >>

Top Post >>

Blog Archieve >>

 

S E R V I C E ' s aLL ShArE Copyright © 2010 Endy_Djubu is Designed by 3nfitry